ilustrasi (JIBI/dok)
Selasa, 7 November 2017 19:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Duh...Pancaroba Bisa Perparah Penyebaran Virus di Bantul

Kematian ratusan itik di pesisir selatan Bantul diduga kuat karena virus Flu Burung.

Solopos.com, BANTUL– Sembari menunggu kepastian hasil uji sampel yang dilakukan oleh Balai Besar Veteriner (BB Vet), otoritas Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul mengisolasi seluruh kandang unggas di wilayah Pantai Samas. Menyusul kematian ratusan itik di wilayah ini yang diduga akibat virus Flu Burung.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Diperpautkan Bantul, Joko Waluyo, menuturkan keputusan ini diambil karena dugaan serangan virus Asian Influenza (AI) atau flu burung semakin menguat. Namun menurutnya dugaan tersebut masih sebatas hasil pengamatan kasat mata yang dilihat dari kotoran unggas yang sakit dan bangkainya.

“Tapi untuk kepastian kami masih menunggu hasil uji lab. Isolasi juga belum ditentukan sampai kapan,” ujarnya, Selasa (7/11/2017). Joko menambahkan sebelum isolasi dilakukan, seluruh kandang telah disemprot disinfektan sebagai upaya mematikan virus yang masih tertinggal di sekitar kandang.

Baca Juga : Dugaan Virus Flu Burung Menguat, Peternakan Itik di Pesisir Bantul Kini Diisolasi

Selain karena penyemprotan disinfektan dan isolasi, menurutnya virus juga dapat mati jika terpapar panas matahari yang menyengat. Padahal saat ini, wilayah DIY termasuk pesisir selatan Bantul mulai memasuki musim penghujan.

Menurut dia, cuaca musim pancaroba yang tidak menentu (kadang hujan kadang panas) berpotensi memperluas sebaran virus. Namun kata dia, setelah diisolasi, hingga kini pihaknya belum mendapat laporan adanya unggas yang mati ataupun kejadian serupa di tempat lainnya. “Belum ada laporan kalau di tempat lain,” paparnya lagi.

Seperti yang disampaikan Kepala Diperpautkan, Pulung Haryadi, pihaknya menengarai ada dua penyebab utama yang menyebabkan serangan virus ini. Pertama, peternak mungkin membeli itik yang sudah dewasa dari luar wilayah tersebut untuk menambah populasi ternak. Hal tersebut, menurut Pulung, sangat berpotensi menjadi vektor virus yang terbawa dari luar. “Itu yang paling besar kemungkinannya,” ucapnya.

lowongan pekerjaan
PT.Astra International tbk, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…