Ilustrasi perguruan tinggi (JIBI/Dok) Ilustrasi perguruan tinggi (JIBI/Dok)
Selasa, 7 November 2017 03:00 WIB Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos Pendidikan Share :

Dana Hibah Riset Diminta Juga untuk Masyarakat

Dana hibah riset dosen juga untuk masyarakat.

Solopos.com, SOLO— Dosen di perguruan tinggi diminta tak memikirkan dana hibah riset untuk kepentingan jurnal saja, melainkan untuk masyarakat. Para peneliti di perguruan tinggi yang telah meraih dana riset didorong memiliki pola pikir hasil riset mereka mampu meningkatkan daya saing ekonomi demi kesejahteraan masyarakat.

Hal itu disampaikan Direktur Pengembangan Teknologi Industri Direktorat Pengembangan Teknologi Industri Direktorat Jenderal (Ditjen) Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Hotmatua Daulay, saat menjadi narasumber kunci dalam Seminar Nasional Hilirisasi Riset untuk Kesejahteraan Masyarakat yang diselenggarakan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo di Pendapa Ageng, Rabu (25/10/2017).

“Jadi dana yang didapatkan dan digunakan untuk riset bukan hanya demi jurnal, tapi juga meningkatkan daya saing ekonomi. Semisal periset berlatar belakang seni, jangan hanya berpikir itu untuk bidang seni, melainkan untuk lintas bidang. Riset bidang pertanian, bidang kesehatan, dan sebagainya juga sama,” ujar Hotmatua, Rabu.

Para peneliti juga diharapkan memahami indikator tingkat kesiapterapan teknologi (TKT) sehingga mereka bisa mempersiapkan dan mengukur sejauh mana hasil riset tersebut diaplikasikan dan dimanfaatkan.

“Dengan memahami TKT, peneliti akan mengetahui di level mana hasil risetnya, apakah sudah benar-benar bisa langsung dimanfaatkan, atau butuh pengembangan lebih lanjut,” ujar dia.

Membahas tentang seni, teknologi, dan masyarakat, Hotmatua menyatakan ketiganya tidak dapat dipisahkan. Seni dan teknologi yang dikolaborasikan dapat memberi nilai lebih dalam upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut dia, kolaborasi seni dan teknologi sudah ada sejak zaman nenek moyang. Dengan semakin meningkatnya riset saat ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing ekonomi.

Ketua Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat dan Pengembangan Pendidikan (LPPMPP) ISI Solo, R.M. Pramutomo, menyatakan seni, teknologi, dan masyarakat telah menyatu dalam praktik penelitian dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi seni. Tidak ada lagi jarak antara praktik seni dengan teknologi, terutama dengan masyarakat.

“Pemisahan antara disiplin sains, teknologi, dengan sosial, humaniora, dan seni tidak lagi populer. Praktik seni seharusnya melebur dan kehadirannya mewarnai teknologi dan masyarakat. Seni tidak lagi terbatas menara gading yang berlindung di balik kredo seni untuk seni,” kata dia.

Kehadiran seni semakin diperlukan dalam dunia yang kian berlari menuju kecanggihan teknologi. Seni telah membuktikan hal tersebut dengan munculnya disiplin-disiplin baru dalam ilmu pengetahuan seperti disiplin desain, kajian budaya, dan sebagainya.
Seminar pada hari itu menghadirkan dua narasumber lainnya yaitu Slamet dari ISI Solo dan Didit Widiatmoko Soewardikoen dari Telkom University, Bandung.

lowongan pekerjaan
PERUSAHAAN TEKSTIL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…