Salah satu penampilan dalam Parade Difabel Ceria di Panggung Kampayo XT Square, Jalan Veteran, Jogja, Senin (6/11/2017) malam. (IST/Dok Panitia) Salah satu penampilan dalam Parade Difabel Ceria di Panggung Kampayo XT Square, Jalan Veteran, Jogja, Senin (6/11/2017) malam. (IST/Dok Panitia)
Selasa, 7 November 2017 14:55 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Amazing, Parade Penyandang Disabilitas Membius Penonton

Para penyandang disabilitas tampil dalam Parade Difabel Ceria

Solopos.com, JOGJA-Rasa haru terlihat setelah menyaksikan para penyandang disabilitas tampil satu persatu membawakan kesenian yang mereka kuasai di Panggung Kampayo XT Square, Jalan Veteran, Jogja, Senin (6/11/2017) malam.

Keharuan menyeruak ketika Jathilan Putri Ayu dibawakan secara apik oleh Sidik, siswa SLB PGRI, Desa Minggir, Sleman. Kehadirannya langsung menggebrak panggung. Pergelaran bertajuk Parade Difabel Ceria tersebut, terselenggara atas kerja sama Kampayo dan Yayasan Grha Kreatif Tunagrahita Yogyakarta.

“Saya senang dan bangga, karena berhasil menampilkan siswa-siswi penyandang disabilitas di Panggung Foodcourt Caffe Kampoyo XT Square. Meski mereka memiliki kekurangan, tetapi semangat hidupnya perlu diacungi jempol,” kata KRMT Indro ‘Kimpling’ Suseno, selaku penyelenggara dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Selasa (7/11/2017).

Penampilan pertama dilakukan Sidik yang kemudian disambut tepuk tangan dari penonton. Sidik yang kurang pendengaran dan pandangan ini mampu bermain jathilan dengan lincah. Penampilan Sidik disusul penampilan Eni Sari dari SLB PGRI, Desa Minggir, Kabupaten Sleman yang tampil membacakan puisi karyanya sendiri yang berjudul Kuasaku. Eni membacakan puisi penuh dengan perasaan. Eni tampakn tidak grogi apalagi takut meski dengan kursi roda.

Sebaliknya ia justru tampil garang. Suaranya kadang pelan, tapi kadang melengking. Setelah itu ia tertunduk sambil menitikkan air mata. Saat inilah penonton tak terasa juga turut menitikkan air mata haru. “Bunga, aku ingin jatuh di pangkuanmu dan menciummu,” ujar Eni pada bait terakhir saat membacakan puisinya.

Selain mereka, masih banyak penampil lainnya yang tidak kalah memukau penonton. Anak- anak ini tidak semata-mata memerlukan rasa belas kasihan, tetapi lebih membutuhkan kesempatan untuk tampil menunjukkan kemampuannya.

lowongan pekerjaan
PERUSAHAAN TEKSTIL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sejarah Kebangsaan di Kawasan Singosaren

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/10/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Maestro tari, Sardono W Kusumo, pulang kampung. Dalam usia sepuh dan lama…