Institut Desa Para narasumber dalam Serasehan Kemandirian Desa dan Peran Kampus di Gedung Soetopo, Kampus STPMD-APMD Jalan Timoho, Kota Jogja, Sabtu (4/11/2017). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 6 November 2017 16:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Tak Lama Lagi Bakal Ada Institut Desa di Jogja

STPMD “APMD” gelar sarasehan kemandirian desa.

Solopos.com, JOGJA— Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” konsisten sebagai kampus yang fokus terhadap urusan pedesaan dalam berbagai program studinya. Saat ini, otoritas kampus tengah merancang pendirian institut khusus desa.

Ketua STPMD “APMD” Habib Muhsin menjelaskan, pihaknya konsisten tetap menempatkan APMD sebagai kampus pedesaan, terutama dari sisi disiplin ilmu yang disajikan dalam berbagai prodi. Menurutnya, alumni APMD saat ini berperan penting dalam keikutsertaan membangun kampus. Tak sedikit sejumlah alumni yang kini menjadi aparatur pemerintah di berbagai daerah di Indonesia hingga menjadi tokoh ormas.

“Saya selalu bertemu alumni, ada di bank, intansi pemerintahan dan lain-lain. Meskipun kampus desa tetapi alumninya di mana-mana, kami tetap konsisten dalam pembangunan masyarakat desa,” ungkap dia dalam Serasehan Kemandirian Desa dan Peran Kampus di Gedung Soetopo, Kampus STPMD “APMD” Jalan Timoho, Kota Jogja, Sabtu (4/11/2017).

Ia mengatakan, APMD tengah berupaya menaikkan status menjadi Institut, akan tetapi, tetap fokus pada keilmuan pedesaan, dan bertahan menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang konsentrasi dengan persoalan desa. Pihaknya selalu menggelorakan kepada mahasiswa dan alumni agar selalu membangun Indonesia dari desa meskipun tinggal di kota sekalipun.

Ia mengatakan, STPMD “APMD” saat ini telah mendapatkan akreditasi intitusi predikat B, menjadi salah satu dari 30 perguruan tinggi di DIY yang telah terakreditasi institusi. Pihaknya terus melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri terutama berkaitan dengan bahasan soal pedesaan.

“Kami membangun gedung lantai ketiga, untuk menyiapkan sarana, ruang kuliah, diskusi mahasiswa untuk ke arah sana [konversi ke institut]. Kami terus membangun desa, akan dikembangkan di institut tentu meminta dukungan alumni,” kata dia.

Alumnus APMD Haedar Nashir yang hadir dalam serasehan tersebut mengatakan, pentingnya peran kampus dalam mengembangan masyarakat pedesaan. Pedesaan, kata dia, kadang masih mengalami problem kemampuan dan relasi sosial masyarakat. Otonomi daerah, kata dia, cukup mampu membuka kebebasan daerah terkait dari kekuatan aset. Namun dalam proses pertukaran ini yang sering jadi korban adalah rakyat yang tidak memiliki akses pada kekuasaan.

“Hal penting yang bisa dijadikan kajian para akademisi adalah birokrasi, saat ini sudah masuk dalam reformasi birokrasi, ternyata belum bisa menembus tingkah laku dari para birokrat, artinya belum dapat memperbarui birokrasi, ini penting berkaitan desa,” kata pria yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Bupati OKU Timur Kholid Mawardi sepakat bahwa harus ada kampus yang konsen terhadap persoalan pedesaan. Peran kampus sangat diharapkan dalam berkontribusi membangun kemandirian di pedesaan. Desa yang mandiri adalah punya barang bisa dijual dan memiliki pendapatkan yang bisa dibelanjakan untuk hal yang lain. Sedangkan kemandirian harus didukung dengan terobosan atau harus berbeda berfikirnya dengan orang lain memang resikonya sukses atau gagal. “Kami di OKU Timur mengembangkan BUMDes dan badan-badan lain, karena ada wilayah transmigrasi jadi mudah saya kembangkan,” ungkap pria yang juga alumnus STPMD “APMD” ini.

lowongan pekerjaan
PT.Astra International tbk, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pemerataan Kesejahteraan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (24/10/2017). Esai ini karya Anton A. Setyawan, Doktor Ilmu Manajemen dan dosen di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah anton.setyawan@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Tanggal 20 Oktober…