Aqua Dwipayana. (Harian Jogj/Nugroho Nurcahyo) Aqua Dwipayana. (Harian Jogj/Nugroho Nurcahyo)
Senin, 6 November 2017 07:20 WIB ST14/JIBI/Harian Jogja Tokoh Share :

SOSOK ISNPIRATIF
Bermodal Rp250.000, Aqua Dwipayana Merantau ke Jawa

Kisah perjuangan Aqua inilah yang terus menjadi motivasi baginya

Solopos.com, JOGJA-Aqua Dwipayana merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Berasal dari keluarga kurang mampu justru membuatnya bersyukur karena mendorongnya untuk senantiasa berjuang.

Kisah perjuangan Aqua inilah yang terus menjadi motivasi baginya. Sikap sosial yang dimiliki Aqua berasal dari kedua orang tuanya. Sang ayah senantiasa mengajarkannya untuk selalu peduli terhadap sesama.

“Almarhum Ayah saya mengajarkan kepada saya untuk saling berbagi dan saling menolong dengan ikhlas dalam keadaan apa pun karena Tuhan akan membalas amal kebaikan yang selalu kita berikan,” ujar Aqua yang lahir dan besar di Pematangsiantar, Sumatra Utara.

Selain pelajaran tentang tolong-menolong, kedua orang tua Aqua menekankan bahwa dirinya harus kuliah. Namun, saat lulus SMA, ia tidak memiliki keinginan melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi.

“Almarhum ayah tetap memaksa saya untuk berkuliah karena dengan pendidikan tinggi, saya akan dihargai dan dihormati oleh banyak orang sehingga orang-orang tidak akan memandang rendah diri saya,” ujar Aqua kepada Harian Jogja belum lama ini.

Hingga pada akhirnya, April 1988 dengan berbekal uang Rp250.000 Aqua membulatkan tekad untuk kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi agar kelak dapat menjadi wartawan seperti sang ayah. Ia kemudian naik Bus Antar Lintas Sumatra (ALS) dari Pematangsiantar menuju Jogja. Ia memulai perjuangan dengan mengingat pesan sang ayah, yakni harus kuliah.

“Dalam perjalanan dengan bekal uang Rp250.000 saya menangis sedih. Dan saya bertekad bisa kuliah di Ilmu Komunikasi,” ujar Aqua.

Aqua menuturkan, saat itu ia berusaha untuk mendapatkan bangku kuliah agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Pada Juni 1988, Aqua lalu mengikuti ujian di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro (Undip).

Baca juga : SOSOK INSPIRATIF : Aqua Dwipayana Dedikasikan 90% Hidup untuk Kegiatan Sosial

“Saat itu ayah saya memberikan pesan bahwa setiap menemukan kegagalan jangan pernah menyalahkan siapa pun terutama Tuhan. Sebaiknya cari hikmah di balik kegagalan itu karena di situ ada rahasia Tuhan yang merupakan pelajaran dan pengalaman berharga bagi umat-Nya yang mendapat cobaan,” kata Aqua yang akhirnya tak diterima kuliah di UGM atau Undip.

Saat itu, ia yang hobi membaca, kebetulan melihat artikel di tabloid Bestari terbitan Universitas Muhammadiyah Malang. Dari tabloid tersebut Aqua membaca berbagai jurusan yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya jurusan Ilmu Komunikasi. Syarat utamanya adalah rata-rata nilai SMA di atas tujuh dengan biaya bulanan Rp15.000.

“Saya tertarik dan langsung pergi ke Malang untuk mendaftarkan diri. Saya diterima di UMM tanpa jalur tes karena memiliki nilai yang cukup bagus dan menjadi angkatan ke-3 Ilmu Komunikasi UMM yang sekelas hanya berisi 35 mahasiswa,” katanya.

Ketika kuliah, waktu luangnya digunakan untuk menulis berbagai artikel dan dikirim ke koran Jawa Pos serta Surabaya Post. Melalui aktivitas itu, ia mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa.

Libur Natal, 24 Desember 1988 menjadi titik awal Aqua berkarier sebagai wartawan. Saat itu ia tak pulang ke kampung halamannya dan mencoba mencari pekerjaan di Harian Suara Indonesia, anak perusahaan Jawa Pos.

Baca juga : SOSOK INSPIRATIF : Aqua Dwipayana, Tetap Terhubung lewat Komunikasi Jari Tangan

Ia yang masih semester tiga awalnya diragukan oleh Redaktur Pelaksana Suara Indonesia, Hadiaman Santoso, yang saat itu menemuinya. Namun setelah membaca semua artikel yang ditulis, Aqua direkomendasikan ke Jawa Pos di Biro Malang. Tiga hari kemudian ia mulai bekerja sebagai wartawan dan pada Juni 1989 diangkat sebagai karyawan tetap dengan gaji Rp200.000 per bulan. Uang inilah yang ia gunakan untuk membiayai hidupnya, bahkan membantu dana kuliah sang kakak yang kuliah di Jogja.

Hingga 30 September 2005, Aqua menjadi wartawan di berbagai media yaitu selain Jawa Pos dan Suara Indonesia ia juga sempat bekerja Surabaya Minggu, Radio TT77 dan Bisnis Indonesia. Hingga kini, Aqua telah berhasil pula menamatkan S2 dan S3 dari Universitas Padjajaran.

lowongan pekerjaan
PT.BPR DANA UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pemerataan Kesejahteraan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (24/10/2017). Esai ini karya Anton A. Setyawan, Doktor Ilmu Manajemen dan dosen di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah anton.setyawan@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Tanggal 20 Oktober…