Pembacaan cerita dalam bahasa Jawa alias Cerkak Basa Jawi di Pendapa Kantor Dinas Kebudayaan, Jl. Kemasan, Kotagede, Sabtu (04/11/2017). (Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja) Pembacaan cerita dalam bahasa Jawa alias Cerkak Basa Jawi di Pendapa Kantor Dinas Kebudayaan, Jl. Kemasan, Kotagede, Sabtu (04/11/2017). (Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 6 November 2017 15:20 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Baca Cerkak Basa Jawi untuk Mengenang Dalang Ki Ledjar

Dalang Wayang Kancil, Ki Ledjar Subroto, telah berpulang, Sabtu (23/09/2017) lalu

Solopos.com, JOGJA- Dalang Wayang Kancil, Ki Ledjar Subroto, telah berpulang, Sabtu (23/09/2017) lalu. Untuk mengenang kegigihannya, Dinas Kebudayaan Kota Jogja mengadakan pembacaan cerita dalam bahasa Jawa alias Cerkak Basa Jawi di Pendapa Kantor Dinas Kebudayaan, Jl. Kemasan, Kotagede, Sabtu (04/11/2017).

Meskipun sempat hujan, acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu tetap ramai pengunjung. Kursi dan tempat lesehan yang disedikakan rapat ditempati pengunjung. Selain warga Kota Jogja dan sekitar, terlihat juga keluarga Ki Ledjar, serta pemerhati budaya Achmad Charis Zubair dan Eddy Pursubaryanto.

Kepala Disbud Kota Jogja, Eko Suryo Maharso menilai bahwa sudah selayaknya Disbud Kota Jogja dan masyarakat memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ki Ledjar.

Pasalnya upaya Ki Ledjar untuk melestarikan nilai budaya jawa dalam wayang kancil milik Ki Ledjar selalu menjadi panutan oleh dalang, peneliti, hingga warga asing. “Maka acara ini dibuat untuk memperingati 40 hari wafatnya beliau,” kata Eko Suryo.

Menurutnya Pagelaran Waosan Basa Jawa yang membacakan cerkak adalah contoh paling cocok untuk mengilhami semangat Ki Ledjar. Eko Suryo menilai baik Ki Ledjar dan pembacaan cerkak sama-sama mampu mengajak masyarakat berfikir secara konseptual tentang ajaran nilai budaya jawa.

“Awalnya harus cinta, kemudian baru mengerti dan mengilhami,” ujarnya sebelum memberikan sambutan.

Saat memberikan sambutan Eko Suryo kembali menekankan bahwa Ki Ledjar adalah salah satu ikon Kota Jogja. Adapun cara dirinya mengajak berfikir masyarakat untuk berfikir secara Jawa harus diapresiasi.

“Untuk itu kita luang waktu untuk mengenang dan mendoakan beliau,” ujarnya menututup sambutan dalam acara tersebut.

Baik dalam sambutan atau sebelumnya, Eko Suryo mengatakan hal yang sama, dimana ia berharap masyarakat mengerti bagaimana pentingnya mengilhami nilai Jawa di era digital ini.

Menurutnya ajaran yang telah bertahan hingga saat ini terbukti mampu membawa masyarakat jawa tetap bertahan di tengah gempuran kolonial.

“Untuk itu anak muda harusnya kembali berpegang pada nilai Jawa seperti dilestarikan cerkak Kali Gedhe dan Wayang Kancil,” tutur Eko Suryo.

Sebelum menjajaki puncak acara pembacaan cerita berjudul Kali Gedhe oleh Paguyupan Kembang Adat & Perkumpulan Nusantara Baca, penonton yang hadir diajak menonton film dokumenter terlebih dahulu. Tiga video berdurasi 15 menitan itu menampilkan sosok Ki Ledjar.

lowongan pekerjaan
PT.Astra International tbk, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pemerataan Kesejahteraan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (24/10/2017). Esai ini karya Anton A. Setyawan, Doktor Ilmu Manajemen dan dosen di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah anton.setyawan@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Tanggal 20 Oktober…