Suasana pementasan ketoprak dalam acara sosialisasi pelayanan publik oleh Ombudsman DIY di Pantai Krakal, Sabtu (4/11/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Suasana pementasan ketoprak dalam acara sosialisasi pelayanan publik oleh Ombudsman DIY di Pantai Krakal, Sabtu (4/11/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 6 November 2017 14:55 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Ada 2 Makna Khusus dalam Pentas Ketoprak di Pantai Krakal

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar pementasan ketoprak

Solopos.com, GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar pementasan ketoprak yang dilakukan oleh Lembaga Ombudsman Republik Indonesia (DIY) DIY di Pantai Krakal, Kecamatan Tanjungsari, Sabtu (4/11/2017) malam.

Pementasan ini, selain bentuk pelestarian budaya juga untuk menyosialisasikan kepada masyarakat terkait dengan masalah pelayanan publik.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi dalam sambutannya mengatakan, sosialisasi yang bertajuk pementasan ketoprak ini memiliki dua makna penting.

Pertama, sebagai upaya melestarikan tradisi budaya bangsa. Namun yang tak kalah penting dalam pementasan, juga sebagai sarana edukasi agar pemerintah dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Menurut dia, keberadaan Ombudsman Republik Indonesia sebagai salah satu media yang menampung segala keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan. Oleh karenanya, Ombudsman sangat penting, terutama untuk membela hak dari masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan baik dari pemerintah.

“Intinya kita [lingkup Pemkab Gunungkidul] harus bisa memberikan layanan yang baik dan tidak berbelit-belit kalau tidak mau berurusan dengan ombudsman,” katanya, Sabtu.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Bahron Rasyid. Menurut dia, disdikpora menjadi salah satu OPD yang mendapatkan sorotan dari ombudsman. Hal ini tidak lepas dari banyaknya pelayanan yang diberikan kepada masyarakat setiap harinya.

“Tidak kurang dari 90.000 siswa yang dilayani setiap harinya. Jadi banyak respon dalam pelayanan itu sehingga kami sangat terbuka terhadap masukan kritik  dan saran,” kata Bahron.

Dia mengungkapkan, berbagai kritikan dan saran yang masuk menjadi salah satu tolok ukur kualitas pelayanan agar dapat lebih baik lagi.

“Salah satunya bisa lewat ombudsman. Yang jelas, apapun bentuknya itu, kami akan terbuka karena demiki kualitas pelayanan yang lebih baik lagi,” katanya.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Hary Sukomon pun memberikan apresiasi terhadap sosialisasi pelayanan public oleh ORI DIY. Menurut dia, banyak manfaat yang diterima dalam kegiatan tersebut, selain sebagai bentuk sosialisasi pelayanan public, acara itu juga untuk mempromosikan pariwisata dan mengenalkan seni tradisi ketoprak ke masyarakat.

“Jadi sekali kegiatan bisa banyak manfaat karena lokasinya berada di kawasan wisata. Memang tujuan utama untuk sosialisasi pelayanan publik, tapi secara tidak langsung juga sebagai sarana promosi pariwisata,” kata Hary.

Untuk masalah pelayanan publik, Hary mengakui terus melakukan pembenahan sehingga apa yang diberikan ke pengunjung dapat memberikan kepuasan. “Yang jelas untuk peningkatan, kami juga sangat terbuka terhadap kritik dan saran,” ujar mantan Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul Agus Kamtono. Menurut dia, pementasan yang dilakukan oleh ORI DIY patut mendapatkan apresiasi karena memberikan banyak manfaat.

“Siapa pun boleh menggelar sosialiasi berbentuk pentas seni budaya. Yang jelas, kami berterimakasih atas kegiatan yang dilakukan oleh ORI DIY,” katanya.

Acara sosialisasi pelayanan publik ini dikemas dalam pementasan seni ketoprak dengan lakon Angling Darmo Lelono Ombudsman Malowo Pati dipentaskan oleh grup Wiryo Budoyo yang merupakan binaan Ombudsman. Meski hujan, acara berlangsung meriah dan pementasan berjalan lancar hingga akhir acara.

lowongan pekerjaan
PT.Astra International tbk, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Pemerataan Kesejahteraan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (24/10/2017). Esai ini karya Anton A. Setyawan, Doktor Ilmu Manajemen dan dosen di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah anton.setyawan@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO — Tanggal 20 Oktober…