Karyawan pabrik rokok klobot Grindo melinting rokok di pabrik Jl. Kutai, Kota Madiun, Jumat (3/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Karyawan pabrik rokok klobot Grindo melinting rokok di pabrik Jl. Kutai, Kota Madiun, Jumat (3/11/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Minggu, 5 November 2017 15:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Menengok Sisa-Sisa Kejayaan Pabrik Rokok Klobot Kota Madiun

Rokok klobot Grindo yang sempat jaya kini mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Solopos.com, MADIUN — Pabrik rokok klobot bermerek Grindo di Jl. Kutai, Kota Madiun, terlihat sepi, Jumat (3/11/2017) siang. Hanya ada seorang pria lanjut usia yang duduk-duduk di depan bangunan berarsitektur Eropa itu.

Di bagian depan bagunan tampak samar namun masih terbaca tulisan Grindo. Pria lanjut usia itu kemudian mempersilakan awak Madiunpos.com masuk ke pabrik dan melihat proses pembuatan rokok klobot.

Pabrik rokok Grindo ini berusia hampir sama dengan usia Republik Indonesia. Hanya selisih satu tahun. Pabrik rokok Grindo berdiri pada 1946.

Memasuki area pabrik rokok klobot yang lokasinya hanya sekitar 200 meter dari Alun-alun Kota Madiun ini seperti kembali ke masa lalu. Bangunan pabrik itu kuno sementara perabotan di dalamnya juga terlihat tua.

Tempat produksi rokok klobot ini cukup luas dan lapang seperti ruang aula. Di dalamnya tidak ada alat-alat produksi modern. Belasan keranjang berisi klobot jagung tertumpuk di sudut ruangan.

Beberapa plastik bening berisi rajangan tembakau teronggok di sebelahnya. Lima wanita lanjut usia terlihat di tengah ruangan membuat rokok klobot.

Ada rajangan tembakau yang telah dicampur berbagai bahan penyedap seperti cengkih dan saus tembakau yang resepnya rahasia. Selain itu ada klobot jagung yang telah dipotong sesuai ukuran rokok.

Perlengkapan lain hanya mangkuk kecil berisi abu dan gunting untuk merapikan rokok klobot yang telah selesai dilinting. Wanita-wanita lanjut usia dengan cekatan melinting rokok klobot.

Tangan mereka lincah mengambil rajangan tembakau kemudian menaruhnya di klobot lalu melintingnya. Setelah melintingnya dengan sempurna, rokok klobot itu diikat dengan benang tipis. Setiap dua puluh lintingan kemudian diikat menjadi satu.

Di sela-sela melinting rokok klobot itu, mereka terlihat asyik bercanda dan mengobrol berbagai kegiatan di rumah mereka. Salah satu karyawan tersebut, Parmi, 75, menceritakan pabrik rokok ini berdiri pada 1946 atau satu tahun setelah Indonesia merdeka.

Dia mengaku sudah setengah abad bekerja sebagai buruh linting di perusahaan rokok klobot ini. Setiap hari, ia mulai bekerja pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Saat ini, setengah hari bekerja Parmi mampu melinting 1.000 rokok klobot. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan pada zaman dahulu yang bisa mencapai 10.000 linting per hari.

Dia juga bercerita saat ini jumlah karyawan di pabrik rokok Grindo tersisa 10 orang. Padahal pada 1950-1990, jumlah karyawan pabrik itu lebih dari 100 orang dan setiap orang diperbolehkan melinting rokok sebanyak-banyaknya.

“Dulu di sini berjejer-jejer pembuat rokok ini. Kalau 100 orang lebih. Dulu itu sampai mau gerak saja susah. Kalau sekarang lega sekali, karena cuma ada 10 orang,” ujar nenek empat orang cucu ini.

Dia menuturkan orang tuanya dulu bekerja sebagai karyawan di pabrik tersebut. Kemudian dirinya melanjutkan bekerja sebagai pembuat rokok klobot.

Seorang karyawan lain, Katemi, 83, mengatakan dalam satu hari dirinya mampu membuat 1.000 batang rokok klobot. Ia mendapat upah harian dengan nilai Rp30.000 per 1.000 batang rokok.

Katemi mengaku telah bekerja sejak pabrik itu berdiri sehingga dirinya mengetahui seluk beluk serta pasang surut perusahaan rokok klobot ini. Pada 1954 merupakan masa jaya rokok klobot ini hingga perusahaan mempekerjakan lebih dari 100 orang.

Tahun-tahun setelah itu rokok klobot ini masih banyak diminati orang hingga sekitar 1990 mulai redup. Rokok klobot seperti kehilangan pelanggan hingga saat ini hanya menyisakan sepuluh orang pekerja. Selain itu, pekerja juga hanya dibatasi membuat 1.000 rokok per hari.

Karyawan pabrik Grindo, Wasit, 82, menceritakan dirinya dulu sebagai sopir mobil distribusi rokok klobot Grindo. Rokok klobot ini seluruhnya dijual di daerah Ponorogo.

Hanya orang Ponorogo yang menjadi konsumen rokok ini. Bahkan di Madiun yang menjadi tempat produksi tidak ada peminatnya.

Pada era kejayaannya, setiap hari dia mampu mendistribusikan sekitar 30 sampai 40 bal (setiap bal berisi ribuan batang rokok). Namun, saat ini pabrik hanya mampu memproduksi sekitar 10 bal per pekan.

Dia mengatakan saat ini konsumen rokok klobot ini semakin menurun. Penggemar rokok klobot sebagian besar adalah seniman reog dan orang-orang tua.

“Dari dulu memang konsumennya hanya orang Ponorogo. Di daerah lain tidak ada. Saya dulu mengirimnya juga hanya ke Ponorogo,” kata pria yang saat ini diberi kepercayaan sebagai penjaga pabrik.

lowongan pekerjaan
PT.BPR DANA UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Televisi Kita Bersengkarut

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (31/10/2017). Esai ini karya Abraham Zakky Zulhazmi, pengajar di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah abrahamzakky@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Program Rumah Uya sukses menyabet predikat talkshow terfavorit dalam…