Tumpukan sampah ilegal dari beberapa hotel berbintang yang dibuang dekat dengan lahan pemukiman warga Denokan Maguwoharjo Depok Sleman, Jumat (3/11/2017). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak) Tumpukan sampah ilegal dari beberapa hotel berbintang yang dibuang dekat dengan lahan pemukiman warga Denokan Maguwoharjo Depok Sleman, Jumat (3/11/2017). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak)
Sabtu, 4 November 2017 06:20 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Sampah Ilegal Hotel Berbintang Bikin Warga Denokan Tak Nyaman

Warga keberatan limbah ilegal hotel dibuang di Denokan

Solopos.com, SLEMAN-Warga Denokan, Maguwoharjo menolak keberadaan dampah di dekat lahan permukiman penduduk. Tumpukan limbah tersebut berasal dari sejumlah hotel berbintang.

Novidha Pramudhiana, warga RT 6 Denokan, Maguwoharjo, Depok mengatakan, keberadaan sampah tersebut sudah ada sekitar enam bulan terakhir. Selain sangat mengganggu kenyamanan warga, limbah tersebut dikawatirkan menimbulkan masalah kesehatan warga. Sebenarnya, kata dia, masalah tersebut sudah diadukan ke dukuh setempat namun tidak ada tangapan.

Bahkan, masalah sampah illegal itu juga disampaikan ke Pemkab Sleman melalui aplikasi Lapor Sleman. Sayangnya, hingga kini belum ada tindakan atau aksi nyata untuk mengatasi persoalan sampah itu. “Lahan itu tanah bengkok milik pak dukuh. Penimbunan sampah itu jelas sangat mengganggu, ” kata dia kepada Harian Jogja, Jumat (3/11/2017).

Selain aspek kesehatan dan lingkungan, keberatan warga juga didasarkan pada aspek kepatuhan di mana selama ini warga membayar dana kebersihan Rp50.000 perbulan untuk mengangkut sampah rumah tangga di perumahan itu. “Kami membayar jasa kebersihan agar sampah kami diangkut tapi kok malah di wilayah kami dijadikan lahan pembuangan sampah, ” ujar dia.

Hal senada disampaikan Ketua RT 06 RW 02 Denokan Yusron. Dia mengatakan, sempat ada informasi yang beredar lokasi sampah liar itu digunakan untuk lima padukuhan di Maguwoharjo. Namun, dia menyangkal kabar tersebut. “Kabar itu tidak benar sama sekali. Warga kami keberatan dengan adanya lokasi sampah itu, ” kata dia.

Dijelaskan Yusron, 85% warga di wilayah tersebut merupakan keluarga yang memperhatikan masalah kesehatan. Dengan begitu, warga sangat keberatan dengan adanya sampah liar lokasi tersebut. “Lokasi sampah itu, berada di lapangan yang sehari-hari digunakan anak-anak bermain. Kami khawatir anak-anak kena tetanus, ” katanya.

Saat Harian Jogja mengunjungi lokasi tersebut, tumpukan sampah itu sudah membusuk. Bau menyengat limbah disertai belatung menyeruak di sekitar lokasi. Saat itu sudah ada dua orang pemulung yang ada di lokasi. Mereka mengambil botol minuman mineral dan kaleng.

Dari pengakuan mereka, limbah tersebut berasal dari tiga hotel berbintang di wilayah Sleman. Beberapa limbah kuliner, sandal bekas, hingga ragam sampah lainnya tertulis jelas nama ketiga hotel berbintang tersebut. “Kami cuma bekerja di sini. Nanti hasilnya dirosok, ” kata Riyan, yang mengaku dari Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…