Demo warga menolak PLTU Batang. (JIBI/Solopos/Antara/Dok.) Demo warga menolak PLTU Batang. (JIBI/Solopos/Antara/Dok.)
Sabtu, 4 November 2017 02:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PLTU Batang Sisakan Masalah Lahan, Padahal Diklaim Hindarkan Pemadaman Bergilir

PLTU Batang hingga kini masih menyisakan persoalan pembebasan lahan, padahal pembangkit listrik itu diklaim menghindarkan pemadaman bergilir pada 2020 kelak.

Solopos.com, BATANG — Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap di Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang ditargetkan beroperasi pada 2020 hingga kini belum sepenuhnya terbebas dari masalah. Proses ganti rugi lahan masyarakat terdampak proyek pembangunan PLTU Batang itu belum sepenuhnya rampung.

Meskipun Pengadilan Negeri Kabupaten Batang telah melakukan eksekusi lahan milik warga terdampak proyek pembangunan PLTU Batang melalui konsinyasi, hingga kini masih ada sekitar 74 bidang lahan yang masih bermasalah. Warga setempat bersikukuh tidak mau menerima uang ganti rugi pengambilalihan kepemilikan lahan tersebut.

Pada rencana awal, bila pengerjaan pembangunan PLTU berkapasitas 2×1.000 megawatt itu dapat dilakukan sejak 2012, maka pada 2017 sudah selesai pembangunannya dan bisa siap beroperasi. Proyek pembangunan PLTU Batang itu menempati lokasi di tiga desa di Kecamatan Tulis dan Kandeman, yaitu Desa Karanggeneng, Ujungnegoro, serta Ponowareng.

Akibat adanya masalah pembebasan lahan milik warga seluas 12,5 ha dari 226 ha yang dibutuhkan oleh PLTU itu, maka waktu pekerjaan pembangunan ketenagalistrikan terbesar se-Asia Tenggara itu menjadi molor. Kendati demikian, proyek senilai sekitar US$4 miliar tersebut, kini terus berjalan demi mengejar pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap ketenagalistrikan di Pulau Jawa dan Bali.

Konsorsium PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) yang di dalamnya terdapat Adaro, Itochu, dan J. Power sebagai pengembang proyek PLTU Batang, kini terus mengebut pengerjaan pembangunan fasilitas ketenagalistrikan di daerah tersebut. Presiden Direktur PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) Takashi Irie mengatakan proyek pembangunan PLTU Batang kini sudah memulai pemasangan struktur baja yang ditandai dengan pemasangan tiang kolom struktur baja bangunan turbin unit I.

Pembangunan PLTU merupakan bagian dari program elektrifikasi Jawa-Bali serta komitmen pemerintah untuk merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35.000 MW dalam jangka waktu lima tahun, yaitu 2014-2019. Saat peletakan batu pertama pembangunan PLTU, Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir mengatakan PLTU Batang merupakan proyek kerja sama pemerintah swasta (KPS) pertama dengan nilai investasi mencapai US$4 miliar.

Proyek PLTU dibangun dengan skema Build-Operate-Transfer (BOT). Proyek ini ditargetkan bisa beroperasi secara komersial mulai akhir 2019. Dengan dimulainya konstruksi maka diharapkan PLTU Batang akan dapat beroperasi mulai 2020 serta memasok kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat lebih dari 8%/tahun.

Pemasangan tiang kolom struktur baja bangunan turbin unit 1 itu juga menandakan proses pembangunan PLTU yang terus menunjukkan kemajuan secara signifikan. Pemerintah berharap dengan adanya PLTU Batang maka pasokan listrik di Pulau Jawa dan Bali terpenuhi dan tidak ada ancaman pemadaman listrik secara bergilir.

Manajer Humas PT BPI Ayu Widiyaningrum mengatakan pembangunan proyek PLTU harus selesai sesuai target, yaitu beroperasi pada 2020, sebagai upaya mengantisipasi pemadaman listrik bergilir. Selain itu, seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi maka produksi listrik harus tersedia secara memadai.

Ketersediaan pasokan listrik dipastikan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, peluang usaha yang ada, dan bermanfaat bagi industri rumah tangga, seperti jasa cuci pakaian dan konveksi, yang dilakukan warga Kabupaten Batang. Tentunya, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan masyarakat Batang, hal tersebut akan berimbas terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.

Sebagai pengembang proyek PLTU, PT BPI juga terus melakukan pendekatan sosial dan memberikan bantuan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) kepada ratusan kelompok usaha bersama (KUB) di daerah tersebut. Selain itu, PT BPI juga berkomitmen memberikan kontribusi kepada kemajuan bidang pendidikan masyarakat setempat melalui pembangunan dan pengembangan perpustakaan desa di 15 desa di Kecamatan Kandeman dan Tulis, serta pelatihan kesehatan hingga bantuan kesehatan.

Tangkap Peluang Pembangunan PLTU di Batang mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Batang karena keberadaan proyek ketenagalistrikan itu diharapkan dapat menarik lebih banyak investor untuk masuk ke wilayah setempat. Manfaat lainnya atas operasional pembangkit listrik tersebut, yakni bisa mengurangi pengangguran.

Pemerintah Kabupaten Batang mengharapkan kepada PT Bhimasena Power Indonesia selaku pengembang PLTU Batang untuk bisa melibatkan pekerja lokal dalam pembangunan proyek itu. Bupati Batang Wihaji mengatakan bahwa pemkab akan mendukung pembangunan PLTU itu, sedangkan PT BPI harus bisa melibatkan warga setempat untuk bekerja pada proyek tersebut.

Seluruh karyawan yang bekerja di PT BPI betul-betul mempunyai keahlian sesuai dengan kebutuhan. “Jangan sampai mereka yang bekerja menjadi karyawan PT BPI tidak memiliki kemampuan sama sekali,” katanya.

Keberadaan PLTU juga harus dapat memberikan manfaat bagi warga Kabupaten Batang dalam meningkatkan kesejahteraan kehidupan mereka. Hal yang tidak kalah penting, keberadaan PLTU dapat memperkuat minat para investor untuk menanamkan modalnya di wilayah Batang. Makin banyak pemodal berinvestasi di daerah setempat, akan berdampak positif bagi kemajuan daerah, termasuk mengurangi angka pengangguran.

Kepala Desa Ponowareng, Darsani, mengatakan keberadaan PLTU Batang memiliki dua sisi, yakni pengaruh positif dan negatif bagi warga terdampak. Sisi negatifnya, proyek pembangunan PLTU menyebabkan polusi seperti debu yang bertebaran, sedangkan sisi positifnya dapat meningkatkan perekonomian warga.

Namun, ucapnya, tentunya keberadaan PLTU akan lebih banyak berdampak positif menyangkut kepentingan yang lebih luas, yakni ketersediaan pasokan listrik, baik di Kabupaten Batang maupun daerah lain. “Oleh karena itu, kami berharap pembangunan PLTU Batang bisa cepat selesai,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…