Suasana Pameran Dongeng Tanah, Jogja Contemporary (foto: instagram @binnalejogja)
Sabtu, 4 November 2017 15:20 WIB M100/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Dongeng Tanah, Kolaborasi Unik Seniman Asal Brasil dengan Komunitas Seniman Jogja

Dongeng Tanah merupakan salah satu pararel event dari Biennale

Solopos.com, JOGJA-Dongeng Tanah merupakan salah satu pararel event dari Biennale. Tahun ini Biennale Jogja XIV (seri Khatulistiwa IV) bekerja sama dengan negara tamu Brasil.

Pameran Dongeng Tanah ini berlangsung dari pembukaan tanggal 2 November hingga 10 November 2017 di Jogja Contemporary, pukul 10.00-17.00 WIB.

Adalah Cibele Poggiali Arabe, seniman asal Brasil penjelajah sejati yang menulis artikel dan terlibat dalam projek selama perjalanannya, membagi ketertarikan pada masyarakat dan realitas mereka.

Ia berhasil berkolaborasi dengan dua kelompok diantaranya musisi Bagus Dwi Danto dari Sisir Tanah dan bengkel seni Survive! Garage membuat suatu presentasi audio visual yang artistik.

Cibele dan Mas Danto datang ke Sungai Utik, Dusun Dayak Iban, Kalimantan Barat. Awalnya mereka datang mempunyai niat untuk melukis, namun begitu melihat penduduknya, melihat apa yang terjadi disana, akhirnya mereka memutuskan untuk meneliti kehidupan disana.

Mengikuti kebiasaan masyarakat Dayak Iban, ia hidup bersama selama dua minggu disana, juga ikut merasakan bagaimana berkerja di ladang orang. Akhirnya, ia mengetahui budaya adat Dusun Iban tersebut. Kemudian dibuatlah kalender adat, Dayak Iban, Sungai Utik, Kalimantan Barat oleh Cibele dan warga Sungai Utik.

Sedangkan dengan Survive! Garage, Cibele menjelajahi daerah Sosrokusuman yang berada tepat di belakang Jalan Malioboro. Cibele dan tim tertarik dengan masyarakat Sosrokusuman yang hidup di tanah yang semakin terhimpit, yang dulunya hanya sebuah desa hingga seiring berjalan waktu muncul asuransi yang menjual tanah, menyaksikan pengurangan ruang publik yang dramatis, tersesat pada  pertumbuhan mal dan industri perhotelan di Jogja.

Cibele dan Survive! Garage mengadakan workshop dan berkarya bersama masyarakat Sosrokusuman.

Karya-karya tersebut kemudian dipamerkan dalam Pameran Dongeng Tanah tersebut.

Grace Ayu, Pengelola Pameran Dongeng Tanah mengatakan, kehidupan masyarakat Sosrokusuman sama dengan kehidupan masyarakat yang berada di Sungai Utik. Mereka lahir dan hidup dilahan orang, tidak tau asal-usul yang jelas sebenarnya lahan tanah yang mereka tempati milik siapa.

Bahkan sampai sekarang peraturan daerah belum menegaskan lahan tersebut milik masyarakat di Sungai Utik atau bukan. Belum ada keterangan yang jelas dan formal.

“Nah inilah yang mau diomongin, ngapain sih ngomongin soal dongeng tanah, yaini tanah kita kenapa jadi seperti ini? Kesamaan dari Kalimantan dan Sosrokusuman ya soal tanah ini, milik siapa,” terangnya ketika ditemui harianjogja.com, Jumat (3/11/2017).

Qiqi, mahasiswi, salah satu pengunjung dalam pameran Dongeng Tanah tersebut mengaku sangat tertarik dengan pameran ini. “Kalau boleh dijelaskan dengan satu kata, Dongeng Tanah ini “berbeda”. Mulai dari instalasi berupa kentungan di dalamnya dan filosofi yang terkandung. Good idea, good works” katanya.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Televisi Kita Bersengkarut

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (31/10/2017). Esai ini karya Abraham Zakky Zulhazmi, pengajar di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah abrahamzakky@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Program Rumah Uya sukses menyabet predikat talkshow terfavorit dalam…