Bos generasi ketiga Djarum Kudus Victor Rachmat Hartono (kedua dari kiri) dan istrinya, Amelia Santoso, tampil dalam groundbreaking Indonesia Kaya di Taman KB Semarang, Rabu (1/11/2017). (djarumfoundation.org) Bos generasi ketiga Djarum Kudus Victor Rachmat Hartono (kedua dari kiri) dan istrinya, Amelia Santoso, tampil dalam groundbreaking Indonesia Kaya di Taman KB Semarang, Rabu (1/11/2017). (djarumfoundation.org)
Sabtu, 4 November 2017 06:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

Djarum Foundation Lengkapi Taman KB di Semarang dengan Panggung Terbuka

Taman KB Semarang bakal dipugar dan ditambahi infrastruktur berupa panggung terbuka.

Solopos.com, SEMARANG — Taman Keluarga Berencana (KB) Kota Semarang yang sempat diperkenalkan kembali sebagai Taman Menteri Supeno bakal dipugar Pemerintah Kota Semarang. Taman di Kota Semarang, Jawa Tengah itu bakal dilengkapi dengan panggung teater terbuka yang pembangunannya dilakukan bersama Djarum Foundation.

“Kami sudah membangun Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia, Jakarta. Sekarang giliran Taman Indonesia Kaya di Semarang,” kata Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono seusai ground breaking Taman Indonesia Kaya di Taman KB Kota Semarang, Jateng, Rabu (1/11/2017).

Infrastruktur pertamanan di Kota Semarang itu bakal dilengkapi Djarum Foundation dengan berbagai fasilitas seperti panggung teater terbuka berkapasitas 400 pemain dengan 1.000 kursi penonton. Taman Indonesia Kaya, sambung Victor Hartono, dikonsep sebagai sarana bagi pelaku seni Kota Semarang maupun Jateng untuk menampilkan berbagai kesenian lokal Indonesia yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat secara gratis.

Dengan adanya Taman Indonesia Kaya, pencarian dan pengembangan bakat seni di Kota Semarang diharapkan bisa berjalan dengan baik sehingga Semarang memiliki tempat seni pertunjukan untuk menghidupi para pelaku seni. “Sebelum membangun Taman KB menjadi Taman Indonesia Kaya, kami sudah memulainya di Jakarta. Kenapa? Di sana [Jakarta] tiket Rp1 juta dibeli, Rp2 juta dibeli, Rp3 juta dibeli. Itu bisa menghidupi pelaku seni,” kata Victor Hartono yang juga chief operating officer (COO) PT Djarum Kudus itu.

Djarum Foundation, kata Victor, menginginkan Kota Semarang juga memiliki kesempatan berkreasi yang sama yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan berkesenian dan bisa pula nanti ditampilkan di Galeri Indonesia Kaya. “Ya, untuk nguri-uri kebudayaan. Siapa yang tampil, diakurasi tim budaya Djarum Foundation. Taman Indonesia Kaya akan selesai pada 2018. Nantinya akan dihibahkan kepada Pemkot Semarang unuk digunakan warga Kota Semarang,” janjinya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengapresiasi langkah Djrum Foundation yang memberikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk memugar Taman KB yang identik dengan patung ibu dan dua anak tersebut. “Saya mewakili warga Semarang mengucapkan banyak terima kasih. Taman ini dikenal dengan patung ibu dan anaknya yang mencari bapaknya karena enggak pulang-pulang,” canda Hendi—sapaan akrab orang nomor satu di Kota Semarang itu.

Hendi meminta patung ibu dan anak yang sudah menjadi ikon Taman KB itu tetap dipertahankan dan pepohonan yang sudah sedemikian rindang di taman tersebut bisa lebih ditambah agar semakin nyaman sebagai ruang terbuka publik. “Dengan support ini, teman-teman seniman akan diberi ruang berkreasi. Terjadi transfer ilmu, transfer pengetahuan. Ini murni karena beliau [Victor Rachmat Hartono] lahir di Semarang,” katanya yang diamini Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Semarang, kata dia, tidak akan bertambah maju dan besar jika hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang nilainya Rp4,8 triliun. “Butuh sinergi dan kerja sama dengan berbagai stakeholder, termasuk pengusaha,” kata Hendi di hadapan bos generasi ketiga Pabrik Rokok Djarum Kudus itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…