Para mahasiswa ISI Solo menggambar Pagoda Jebres di kompleks Kampus II Institut Senin Indonesia (ISI) Solo di Mojosongo, Jebres, Jumat (3/11/2017). (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos) Para mahasiswa ISI Solo menggambar Pagoda Jebres di kompleks Kampus II Institut Senin Indonesia (ISI) Solo di Mojosongo, Jebres, Jumat (3/11/2017). (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos)
Sabtu, 4 November 2017 06:35 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

CAGAR BUDAYA SOLO
Tak Terurus, Pagoda Mojosongo Kritis dan Penuh Coretan Vandalisme

Kondisi pagoda di wilayah Mojosongo, Jebres, Solo, kritis karena kurang mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat.

Solopos.com, SOLO — Pagoda Jebres di kompleks Kampus II Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Mojosongo, Jebres, Solo tak terurus. Situs yang sudah ditetapkan menjadi benda cagar budaya (BCB) tersebut bahkan menjadi korban vandalisme.

Pantauan Solopos.com, Rabu (1/11/2017), puluhan mahasiswa menggambar pagoda tersebut. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Solo. (Baca: Bangunan Mirip Pagoda Gegerkan Warga Mojosongo)

Coretan-coretan menempel di hampir seluruh bagian dinding pagoda yang memiliki tujuh undakan itu. Tulisan-tulisan tak beraturan itu menggunakan aneka sarana seperti cat semprot, spidol, pulpen, hingga goresan benda tajam membentuk pola tulisan.

Beberapa bagian pagoda sudah cuil. Di bagian paling bawah, acian dan semen sudah terkelupas hingga batu bata merah sebagai pembentuk pagoda itu terlihat.

Pagar yang dibuat pemerintah juga tak terawat. Sementara tulisan penanda BCB di depan pintu masuk atau di sisi selatan masih kokoh berdiri. Pada penanda itu tertulis, “Pagoda Jebres No. 13/JBS/B.4/98. Ditetapkan Pemerintah Kota Surakarta Melalui Keputusan Kepala Dinas Tata Ruang Kota Nomor 646/40/I/2014 tentang Penetapan Bangunan-bangunan yang Dianggap Telah Memenuhi Kriteria sebagai Cagar Budaya Sesuai Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Surakarta 2017.”

Wakil Dekan II FSRD ISI Solo, Hendri Cholis, 60, mengatakan vandalisme pada pagoda jelas dilakukan orang luar, bukan mahasiswanya. Menurutnya, lokasi pagoda sebelumnya memang berbatasan dengan kampung. ISI Solo memasang pagar pembatas di sekitar pagoda itu belum lama ini. “Siapa yang melakukan vandalisme, saya juga tidak tahu. Mungkin ini dilakukan saat bagian selatan sana belum ada tembok. Banyak kegiatan di sini yang tak bisa terpantau,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com di lokasi pagoda, Jumat siang.

Ia memperkirakan coretan itu makin parah sejak setahun terakhir. Ia masih ingat saat Wali Kota Solo ke area itu dalam agenda tanam pohon dan sudah ada tulisan-tulisan tak jelas pada dinding pagoda.

“Makin lama kondisinya makin parah,” tutur pembina KSR PMI ISI Solo itu. (Baca: Pagoda Mojosongo Penanda Eksistensi Warga Tionghoa di Solo)

FSRD ISI Solo bukannya tinggal diam. Mereka sudah mengadakan rapat dekanat membahas revitalisasi pagoda. Dengan ilmu yang dimiliki, mudah saja bagi mereka membersihkan atau mengecat ulang pagoda.

“Tapi kami diingatkan Kabag Perlengkapan Dekanat dalam melakukan upaya revitalisasi harus ada izin dan prosedur tertentu. Saya akhirnya tidak berani kalau enggak ada izin dari yang berwenang [Pemkot Solo],” kata master taichi tersebut.

Ia menilai Pemkot sebagai pemangku kebijakan harusnya mengawasi situs bersejarah semacam itu agar tetap lestari. Pelaku vandalisme yang merusak harus mendapatkan hukuman berat karena melanggar UU.

“Ini juga berlaku untuk vandalisme di banyak tempat lainnya. Wajah kota jadi buruk kalau coretan yang mereka buat asal-asalan. Harus ada yang patroli,” kata dia.

Ia menilai orang-orang yang melakukan vandalisme pada pagoda adalah orang yang ingin eksis dengan cara yang keliru. Mereka tidak memahami aspek keindahan.

Dosen FSRD ISI Solo, Nyoman Surasa, sangat menyayangkan sikap masyarakat yang seenaknya melakukan vandalisme pada pagoda. Ia menyoroti makin kendurnya nilai kesakralan suatu situs sehingga masyarakat tak menghormati situs tersebut.

“Ini kan peninggalan kaum Tionghoa dan seharusnya dianggap sakral. Kalau itu terjadi, saya yakin masyarakat akan lebih menghormatinya,” terang lelaki asal Bali itu.

Salah seorang warga RT 001/RW 008, Sabranglor, Mojosongo, Jebres, Solo, Yen Yen Wahyono, 48, mengaku terenyuh dengan kondisi Pagoda Jebres. Pemerhati kebudayaan itu menilai pagoda itu jauh dari uluran tangan yang peduli.

“Seingat saya pagoda itu baru dipercantik sekali. Saya menyayangkan kondisi BCB yang dibiarkan mangkrak seperti itu,” kata dia.

Ia berharap Pemkot Solo memberi perhatian lebih pada pagoda. Menurutnya, pagoda itu potensial menjadi objek wisata di Kota Solo.

“Saya tidak ikhlas kalau kondisinya memprihatinkan begitu. Tapi mau bagaimana? Saya ini kan hanya warga biasa,” ujar dia.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…