Warga melintas di depan panggung terbuka Gladak Langen Bogan (Galabo) Solo, Rabu (13/2/2013). (Burhan Aris Nugraha/JIBI/SOLOPOS)
Jumat, 3 November 2017 14:00 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

WISATA SOLO
Solo Prospektif Menjadi Kota Seribu Kuliner, Asalkan…

Wisata Solo, pengamat menyatakan Kota Solo prospektif di-branding menjadi Kota Seribu Kuliner.

Solopos.com, SOLO — Pengamat menilai Solo bisa saja menjadi Kota Seribu Kuliner yang mampu mengundang wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung. Hal itu karena kuliner adalah potensi wisata terbesar yang dimiliki Kota Bengawan

Pakar komunikasi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Hastjarjo, mengatakan agar tujuan tercapai, Pemkot Solo dan pelaku usaha harus berbenah. Ia berpendapat belum seriusnya pengelolaan menjadikan kuliner belum menjadi tujuan utama datangnya wisatawan.

“Kelemahan pelaku kuliner di Solo, biasanya asalkan ada tempat, sudah. Tidak ada penataan dan pengontrolan yang baik. Orang kemudian jadi malas ke sana karena suasana tidak menyenangkan karena kelihatan kumuh,” kata Kaprodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS tersebut saat ditemui di kantornya, Kamis (2/11/2017).

Dia menambahkan Pemkot Solo memiliki peran vital mewujudkan Solo sebagai Kota Seribu Kulinerhal itu. Pemkot harus membuat standardisasi, kemudian edukasi dan penegakan pada pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha kuliner. Langkah itu bisa dilakukan secara bertahap dan minimal dilakukan pada sentra kuliner yang berpotensi mengundang orang, khususnya wisatawan asing.

“Solo belum ter-branding sebagai kota kuliner. Orang datang ke Solo bukan untuk berwisata kuliner. Mereka ke Solo karena ada MICE atau agenda budaya. Baru kemudian mereka mencari kuliner. Promosi untuk itu masih kurang,” kata dia.

Ia mengatakan sebagian kuliner memang belum sesuai dengan standar yang diberlakukan di negara-negara tetangga. Meski demikian, ia mengatakan tak terlalu sepakat jika ada generalisasi kuliner di Solo kemproh. Faktanya beberapa sentra kuliner baru sudah menerapkan pola manajemen restoran dengan baik.

“Mereka anak muda, punya wawasan dan pergaulan luas bahkan hingga mancanegara sehingga mereka memperhatikan standar higienisme dan kesehatan,” ujarnya.

Standar Kesehatan

Di luar negeri higienitas dan kesehatan menjadi standar baku. Di Indonesia, khususnya di Solo, hal semacam itu belum dilaksanakan. Beberapa standar kesehatan belum dipenuhi pelaku industri kuliner. “Misalnya tidak boleh memegang bahan makanan langsung dengan tangan. Harus pakai kaus tangan atau alat lain,” tuturnya.

Masalah pencampuran bahan juga diatur. Bahan tertentu tak boleh berada di dekat bahan lainnya karena ada kontaminasi dan aspek lain. Suhu penyimpanan ada aturannya. Hal semacam itu belum ada standardisasi di Indonesia. Selain itu, jarang ada pemeriksaan level higienitas di resto atau warung oleh Dinas Kesehatan.

“Kalau di luar negeri, seperti pengalaman saya kerja sebagai juru masak di warung bakmi di Australia, kalau pengelola kuliner sampai melanggar aturan, mereka bisa dilarang beroperasi selama sebulan sampai ada kepastian terpenuhinya standar kesehatan dari pemerintah,” papar dia.

Orientasi pada kesehatan pelanggan menjadi sisi yang terlewatkan di industri kuliner di Solo. Orientasi yang diutamakan masih sebatas profit. Padahal di luar negeri, standar kesehatan menjadi aspek terpenting dalam bisnis kuliner.

Lebih lanjut, Pemkot Solo sebaiknya segera memerhatikan pertumbuhan pusat kuliner yang tumbuh di wilayahnya. Ia menilai pusat kuliner yang terbentuk secara natural alias bukan lokalisasi oleh Pemkot Solo, justru berkembang lebih pesat.

“Lihat saja kuliner di Kota Barat dan Badran. Itu natural. Bandingkan dengan Galabo. Kalau mau diriset, bisa membandingkan. Kuliner adalah potensi riil Kota Solo, tinggal bagaimana mengelolanya,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…