Suasana perayaan Yaqowiyyu di Lapangan Klampeyan, Jatinom, Klaten, Jumat (3/11/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Suasana perayaan Yaqowiyyu di Lapangan Klampeyan, Jatinom, Klaten, Jumat (3/11/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Jumat, 3 November 2017 18:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

WISATA KLATEN
Gubernur Jateng dan Menteri Perindustrian Ikut Sebar Apam di Yaqowiyyu Jatinom

Acara sebaran apam Yaqowiyyu di Jatinom, Klaten, dihadiri Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Solopos.com, KLATEN — Pesona perayaan Yaqowiyyu yang identik dengan sebaran apam menghipnotis ribuan orang untuk berkumpul di Lapangan Klampeyan, Jatinom, Jumat (3/11/2017). Di sana, mereka menanti 5 ton apam disebar di bawah sengatan mentari.

Selepas Salat Jumat di Masjid Gedhe, dua gunungan apam dikirab menuju panggung kehormatan. Iring-iringan gunungan diikuti puluhan santri Ki Ageng Gribig yang berpakaian putih-putih serta rombongan pejabat dan Forkopimda Klaten. (Baca: Pesan Saling Menghargai hingga Perang terhadap Narkoba di Yaqowiyyu Jatinom)

Apam dalam gunungan lalu disebar oleh Plt. Bupati Klaten Sri Mulyani, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Sebaran apam Yaqowiyyu dilanjutkan dengan menyebarkan 5 ton apam dari dua buah menara oleh para santri.

Di lapangan, ribuan orang menanti lemparan apam Yaqowiyyu mengarah pada mereka. Mereka melompat, menengadahkan tangan, hingga menggunakan topi atau payung untuk menangkap apam. Tawa dan teriakan terdengar di sela-sela debu pekat yang memenuhi udara saat apam tertangkap.

“Tradisi Yaqowiyyu ini adalah kebudayaan yang luhur. Semua orang datang ke sini dengan suka cita. Kita hari ini belajar bahwa para ulama terdahulu menyebarkan syiar Islam menggunakan pendekatan-pendekatan budaya,” ujar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo kepada hadirin, Jumat.

Sebaran apam Yaqowiyyu memiliki makna sosiologis sebagai tempat berkumpul, bersilaturahmi, dan guyub rukun masyarakat. Apam Yaqowiyyu dikumpulkan dengan menghimpun dari warga setempat.

“Secara filosofis, di situ ada transaksi yang menyebar dan ngerayah. Hal itu bermakna kalau mau berusaha pasti dapat. Manusia jangan hanya menunggu datangnya mukjizat. Kami juga dituntut untuk melayani tanpa pandang bulu. Kami melempar apam sejauh yang kami bisa,” ujar koordinator pelaksanaan penyebaran apam Yaqowiyyu, Eko Susanto, 43.

Ia menceritakan kegiatan budaya sebaran apam Yaqowiyyu sempat dianggap mengarah ke musyrik. Ia mengatakan apam bukan sarana mengharapkan sesuatu, apam hanya simbol budaya.

“Jangan sampai mengultuskan apam Yaqowiyyu. Yang esensial dari kegiatan ini apam sebagai simbol kebudayaan,” beber pria yang mengenakan pakaian serbaputih itu.

Eko menuturkan dari waktu ke waktu sebaran apam Yaqowiyyu mengalami perubahan konsep. Perubahan itu untuk menggaet kunjungan wisatawan. Perubahan itu antara lain jika dulu hanya dilakukan sebaran apam, kini ditambah kirab apam.

“Kami juga melakukan perubahan di kostum dan penampilan dengan harapan tamu yang hadir bakal mendapatkan kejutan sehingga mereka datang ke sini sengaja untuk menikmati sajian budaya,” tutur Eko.

Sebaran apam Yaqowiyyu juga disebut-sebut diwarnai isu sebaran uang. Ia dengan tegas membantah hal tersebut. Menurut dia, sebaran uang tak ada dalam konsep awal sebaran apam Yaqowiyyu.

Ia menilai sebaran uang dalam agenda itu bisa menghilangkan makna sebaran apam Yaqowiyyu. Akibatnya, orang berbondong-bondong ke Lapangan Klampeyan tak lagi ingin mendapatkan apam tetapi uang.

“Dari sisi keselamatan, sebaran uang rawan memicu hal-hal tak diinginkan karena ribuan orang berjubel memperebutkan uang. Kami tak ingin hal itu terjadi kepada para tamu dan kami ingin generasi penerus kami tetap mengingat dan menggelar sebaran apam Yaqowiyyu itu ya apam bukan uang,” tutur dia.

 

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…