Anggota Bhabinkamtibmas Desa Karangwuni Suwarta saat menyambangi warga Dusun Teken, Desa Karangwuni, Rongkop yang sedang berjaga-jaga di area pemakaman pada Kamis (2/11/2017) malam. (Istimewa/Polsek Rongkop) Anggota Bhabinkamtibmas Desa Karangwuni Suwarta saat menyambangi warga Dusun Teken, Desa Karangwuni, Rongkop yang sedang berjaga-jaga di area pemakaman pada Kamis (2/11/2017) malam. (Istimewa/Polsek Rongkop)
Jumat, 3 November 2017 20:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Takut Mayat Dicuri, Warga Jaga Makam Orang Baru Mati

Warga Rongkop Gunungkidul punya tradisi unik jaga makam orang baru mati.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL– Masyarakat Dusun Teken, Desa Karangwuni, Rongkop memiliki kebiasaan unik bagi warga yang baru meninggal dunia. Pasalnya dalam rentang waktu tujuh hari, warga menjaga kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Bhabinkamtibmas Desa Karangwuni Suwarta mengatakan, kegiatan berjaga-jaga di kawasan makam merupakan tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun. Penjagaan dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti mayat dicuri hingga perusakan area pusara oleh kawanan hewan liar.

“Kegiatan menunggu kuburan merupakan kebiasaan warga di Dusun Teken. Biasanya penjagaan dilakukan selama tujuh hari setelah orang yang meninggal dikebumikan,” kata Suwarta kepada wartawan, Jumat (3/11/2017).

Menurut dia, kebiasaan unik dilakukan karena seringkali di Dusun Teken terjadi hal-hal yang mencurigakan karena ada area pemakaman yang rusak. Tidak ada yang tahu persis penyebab pengrusakan itu, namun agar peristiwa yang sama tidak terulang maka warga berinisiatif melakukan penjagaan.

“Untuk itu warga setiap malam bergantian melakukan penjagaan hingga tujuh hari setelah acara pemakaman,” ujar dia.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Desa Karangwuni, Suparta. Menurut dia, penjagaan dilakukan untuk mengantisipasi pencurian jasad orang yang telah mati. “Ini untuk antisipasi saja karena hingga sekarang belum ada bukti pasti adanya pencurian itu,” katanya saat dihubungi, kemarin.

Dia mengakui, dulu sempat ada kecurigaan mayat yang hilang dicuri. Dugaan itu muncul karena kondisi makam terjadi perubahan dengan ciri-ciri pusara ambles hingga berlubang. “Tapi ini masih sebatas dugaan karena untuk kepastian, makam yang diduga dicuri tidak pernah dibongkar,” ujarnya.

Suparta menambahkan, kebiasaan warga menjaga makam banyak dilakukan terhadap orang mati pada Selasa Kliwon. Dipercaya, orang yang mati pada hari itu memiliki tuah sehingga menjadi sasaran pencurian. “Ini masih sebatas mitos. Tapi saat ada warga yang mati Selasa Kliwon pasti aka nada yang berjaga-jaga di area makam, mulai tujuh hari hingga 40 hari setelah pemakaman,” papar dia.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…