Membaca Koran (JIBI/Solopos/Dok)
Jumat, 3 November 2017 13:05 WIB Peni Widarti/JIBI/Bisnis Madiun Share :

Survei Nielsen Ungkap Pangsa Pasar Koran Masih Prospektif

Lembaga Survei Nielsen mengungkap media cetak masih prospektif.

Solopos.com, SURABAYA — Lembaga survei media Nielsen Indonesia menyatakan media cetak tidak perlu minder dengan rendahnya minat baca di kalangan masyarakat dewasa ini. Nielsen merilis hasil survei yang menyimpukan pangsa pasar media cetak atau koran ke depan masih aman dan memiliki prospek sesuai segmennya.

Head of Media Business Nielsen Indonesia Hellen Katherina mengatakan dalam survei yang telah dilakukan Nielsen terhadap konsumen media di 11 kota, terdapat 5 juta orang yang masih membaca media cetak per hari.

Secara wilayah, ungkap Hellen, pembaca media cetak di Medan ada 16% dari total populasi, di Surabaya 15%, Surakarta 19%, dan Makassar 20%. Persentase jumlah pembaca media cetak tersebut hanya setengahnya dari survei yang dilakukan pada 2012.

“Ini jadi tantangan buat kita yang katanya generasi muda sekarang tidak suka baca. Padahal di sosial media, anak muda tetap membaca loh, artinya pembaca hanya bergeser,” katanya saat paparan Lokakarya Manajemen Pers oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) di Surabaya, Rabu (1/11/2017).

Hellen memaparkan sejumlah prospek media cetak ke depan dapat dilihat dari survei Nielsen berdasarkan segmen pasar media cetak. Di antaranya pembaca koran usia 20-34 tahun sebanyak 39% dari total populasi, usia 35-49 tahun sebanyak 41%. Sedangkan media digital sebanyak 70% penikmatnya adalah usia 10-35 tahun.

“Nah usia 35-49 tahun ini adalah usia mapan dan menjadi segmen penting bagi pengiklan. Sedangkan usia 20-34 tahun adalah usia milenial yang juga pekerja profesional seharusnya segmen ini masih menjadi prospek bagus bagi media cetak, bergantung bagaimana kita mengemasnya,” ujarnya.

Berdasarkan hasil survei itu pula, ungkap Hellen, konsumen media TV masih paling tinggi yakni 96%, billboard 53%, internet 43%, radio 17%, cinema 12%, TV berbayar 11%, dan media cetak 9%.

“Dari survei ini tampak bahwa media cetak sangat kecil sekali. Sedangkan pertumbuhan internet sangat cepat. Artinya pembaca tidak berkurang hanya berubah.  20% Yang baca keduanya [cetak dan digital],” ungkapnya.

Menurut Hellen, media cetak tidak perlu minder dengan rendahnya peminat karena media cetak punya ciri khas tersendiri bergantung fitur atau kemasan konten yang dimiliki.

“Belum lagi, hobi membaca ini biasanya adalah orang-orang yang suka traveling, makan di restauran atau identik dengan pertumbuhan lifestyle yang bisa menjadi sasaran pasar media cetak,” imbuhnya.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…