Kereta kuda melintas di kawasan Tugu Pal Putih Yogyakarta dalam gelaran 'Lestari Budayaku, Lestari Negeriku' dari kawasan Jalan Godean menuju Hotel Hyatt, Yogyakarta, Minggu (20/08/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja) Kereta kuda melintas di kawasan Tugu Pal Putih Yogyakarta dalam gelaran 'Lestari Budayaku, Lestari Negeriku' dari kawasan Jalan Godean menuju Hotel Hyatt, Yogyakarta, Minggu (20/08/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 3 November 2017 03:20 WIB Kota Jogja Share :

Sumbu Filosofi, Garis Nyata yang Berwujud Jalan

Sosialisasi sumbu filosofi kembali digelar

Solopos.com, JOGJA-Dinas Kebudayaan DIY kembali menggelar sosialisasi Sadar Budaya Sumbu Filosofi. Kali ini acara tersebut dilaksanakan di Sasana Hinggil Dwi Abad, Rabu (1/11/2017). Sosialisasi diharapkan dapat menyadarkan masyarakat untuk ikut serta menjaga, merawat dan mengembangkan serta mampu mengkomunikasikan makna Sumbu Filosofi.

Sosialisasi dilakukan dalam rangka menjadikan Jogja dengan Sumbu Filosofinya sebagai warisan budaya dunia. Pada 2017, Jogja telah masuk tentative list United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai salah satu calon
warisan budaya dunia.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono mengatakan, pelestarian Jogja sebagai City of Philosophy didasari keinginan melestarikan nilai luhur yang terdapat pada Jogja sehingga bisa diwariskan kepada masyarakat lokal, Indonesia. dan dunia. “Salah satu caranya adalah dengan menjadikan Kota Jogja [dengan Sumbu Filosofinya] sebagai warisan budaya dunia. Agar Jogja dapat memberikan sumbangan berarti bagi peradaban dunia, sekaligus untuk menyelamatkan keistimewaan DIY,” ucap dia, Kamis (2/11/2017).

Pada kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya Daerah (DP2WB) Yuwono Sri Suwito menjelaskan tentang apa itu Sumbu Filosofi. Ia menyatakan, Sumbu Filosofi adalah garis lurus yang terbentang dari Tugu Golong-Gilig atau Tugu Pal Putih, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Panggung Krapyak.

Ia mengatakan, masyarakat harus membedakan Sumbu Filosofi dengan Sumbu Imajiner. Sumbu Imajiner, sebutnya, adalah garis imajinasi yang menghubungkan Laut Selatan, Kraton dan Gunung Merapi sementara Sumbu Filosofi adalah garis nyata yang berwujud
jalan.

Lebih jauh ia menerangkan, Tugu Golong Gilig melambangkan keberadaan sultan dalam melaksanakan kehidupannya. Hal tersebut ditunjukkan dengan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disertai sikap golong-gilig dan didasari hati yang suci. “Itulah sebabnya Tugu Golong-Gilig menjadi titik pandang utama sultan saat meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara,” jelas pria yang biasa disapa Romo Yu ini.

Sementara, filosofi Panggung Krapyak ke utara, menggambarkan perjalanan manusia sejak dilahirkan, beranjak dewasa, menikah sampai punya anak (sangkaning dumadi). Sebaliknya, ucap Romo Yu, dari Tugu Golong Gilig ke Kraton Ngayogyakarta merupakan perjalanan manusia menghadap Sang Kholiq (paraning dumadi).

Ia mengungkapkan, golong gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa, dan karsa yang dilandasi kesucian hati melalui Margatama (jalan menuju keutamanaan) ke arah selatan melalui Malioboro (memakai pedoman ilmu yang diajarkan wali) terus ke selatan lewat Margamulya dan Pengurakan (mengusir nafsu yang negatif).

“Keberadaan Komplek Kepatihan dan Pasar Beringharjo melambangkan godaan duniawi dan godaan syahwat yang harus diatasi oleh manusia. Sepanjang Jalan Margatama, Malioboro, dan Margamulya ditanami pohon asem yang bermakna menarik dan pohon gayam yang berarti teduh,” jelas dia.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…