Daun kelor si mistis Seorang pekerja sedang menjemur daun kelor di showroom KWT Ngudi Rejeki di Dusun Kweden, Trirenggo, Bantul. Jumat (3/11/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 3 November 2017 22:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Si Mistis Bernilai Ekonomis

Daun kelor yang identik dengan hal mistis dalam budaya Jawa, diubah menjadi sesuatu yang inovatif dan bernilai ekonomis tinggi di tangan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Rejeki, Trirenggo, Bantul. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Rheisnayu Cyntara.

Solopos.com, BANTUL— Deretan kemasan berwarna hijau menyambut saya saat mendatangi showroom KWT Ngudi Rejeki di Dusun Kweden, Trirenggo, Bantul, Jumat (3/11/2017). Saat masuk lebih jauh ke dalam bangunan yang juga merupakan rumah tinggal tersebut, berkarung-karung daun kelor kering tampak menumpuk di beberapa sudut ruangan.

Haida Hutagaol, sekretaris KWT Ngudi Rejeki menyambut saya dengan ramah. Bahkan mempersilahkan saya untuk naik ke atas, bagian loteng yang digunakan untuk menjemur daun kelor yang masih segar.

Menaiki tangga dari jalinan bambu dan kayu, seketika bau daun kelor yang kering terkena sinar matahari menyergap indera penciuman saya. Daun kering inilah yang nantinya akan diolah menjadi tepung kelor sebagai bahan baku beragam produk olahan mulai dari kopi, mi, cendol, hingga masker daun kelor.

Menurut Ida, sapaan akrabnya, untuk mengeringkan daun kelor butuh waktu empat hari penjemuran tak langsung. Sebab loteng tersebut ditutup dengan atap transparan agar terhindar dari hujan yang mungkin saja turun. “Kalau matahari tidak terik, hasil penjemuran juga tidak baik. Daun jadi kekuningan. Padahal seharusnya tetap hijau,” ujar Ida menjelaskan.

Ida kemudian menunjukkan kepada saya 18 jenis kemasan olahan daun kelor yang dipajang di showroom. Menurutnya daun kelor memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh mulai dari meningkatkan metabolisme tubuh, menjaga fungsi normal hati dan ginjal hingga mendukung gula di tubuh agar tetap stabil.

Dari belasan olahan daun kelor tersebut, menurut Ida, caa pengolahannya berbeda-beda. Teh daun kelor misalnya tidak ditumbuk halus namun harus dicampur dengan rempah-rempah lainnya seperti teh agar baunya segar dan makin harum.

Sedangkan untuk membuat mi daun kelor, pihaknya menggandeng KWT dari Pundong untuk pengolahannya. “Kami tidak punya alat pengolahan, jadi kami menyediakan bahan baku tepung kelor dan mengurus pemasarannya,” imbuh Ida. Ida menuturkan mi daun kelor ini dibuat dengan segmen pembeli tertentu yakni bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus yang sensitif terhadap tepung terigu. Sebab bahan baku pembuatan mi ini benar-benar dipilih dengan tepung mokaf, jangung atau tapioka yang aman bagi mereka.

Ketika saya bertanya tentang ide awal inovasi olahan daun kelor ini, Ida tersenyum. Menurutnya semua berawal dari keprihatinan bahwa daun kelor identik dengan hal mistik di Jawa. Padahal daun kelor memiliki segudang manfaat dan punya potensi ekonomis. “Misalnya ada orang kesurupan identik dengan dipukul daun kelor biar sembuh,” imbuhnya. Stigma itulah yang berusaha diubah oleh 19 anggota KWT Ngudi Rejeki. Apalagi bahan baku daun kelor berlimpah di daerah Trirenggo dan sekitarnya.

Ide tersebut kemudian mendapat dukungan dari tokoh masyarakat setempat, Juwarno yang tahu banyak khasiat dari daun yang mirip dengan daun katuk ini. Akhirnya para anggota kelompok pun mengembangkan ilmu dan mencari pengetahuan cara mengolah daun kelor.

Bermula dari produk kopi, teh, keripik dan bakwan kini KWT Ngudi Rejeki telah mampu mengolahnya menjadi beragam panganan. Tak hanya itu saja, daun kelor bahkan dicampur dengan tumbukan beras dan dijadikan masker wajah untuk kecantikan. “Kami berkembang lewat masukan dan kritik dari konsumen,” ungkap Ida.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…