Sampah plastik dan beragam jenis sampah lain yang ditinggalkan pengunjung usai malam pergantian tahun baru maupun saat liburan, berserakan di Pantai Parangtritis, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul. Minggu (1/2/2017). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Sampah plastik dan beragam jenis sampah lain yang ditinggalkan pengunjung usai malam pergantian tahun baru maupun saat liburan, berserakan di Pantai Parangtritis, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul. Minggu (1/2/2017). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 3 November 2017 18:55 WIB Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Sampah Jadi Penghambat Wisata Indonesia

Masalah sampah menjadi kendala untuk mengglobalkan pariwisata di Indonesia

Solopos.com, JOGJA– Masalah sampah menjadi kendala untuk mengglobalkan pariwisata di Indonesia. Bahkan persoalan tersebut menjadi top issue dalam industri pariwisata.

Hal itu diungkap oleh Mantan Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu saat mengikuti International Conference on Sustainable Tourism (ICST) di Royal Ambarrukmo Jogja, Rabu (1/11/2017) malam.

Menurut Mari, masalah sampah di lokasi wisata itu mendunia saat ada yang sedang melakukan surfing namun di sekitarnya terdapat tumpukan sampah.

“Ini menjadi top issue. Oleh karenanya, pemangku kebijakan di daerah harus memerhatikan masalah sampah ini,” katanya kepada wartawan.

Dia menjelaskan, pengembangan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tetapi melibatkan semua unsur. Mulai aspek sosial, ekonomi, lingkungan hidup dan budaya. Integrasi seluruh sektor itu, kata Mari, sesuai dengan tujuan orang untuk berwisata yang ingin mencari kesenangan atau kebahagiaan.

Adanya pariwisata yang berkelanjutan, katanya, dapat memacu peningkatan ekonomi masyarakat. “Kehidupan yang layak juga hadir,¬† ada harmoni antara manusia dengan lingkungan dan spiritual. Kalau semua tercapai, maka sustainable tourism adalah kebahagiaan,” kata dia.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Ratman menyatakan, soal kesehatan dan kebersihan menjadi perhatian.

Kemenpar juga bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk menangani masalah ini. “Sebenarnya pelaku wisata sudah berlaku bersih namun kesadaran menjaga kebersihan di tempat publik masih kurang,” katanya.

Kementerian Pariwisata terus menggagas pariwisata berkelanjutan agar dapat meningkatkan daya saing tingkat global. Salah satunya melalui pelaksanaan International Conference on Sustainable Tourism (ICST).

ICST 2017 ini diikuti oleh 300 peserta dan menghadirkan pembicara kelas internasional, seperti Director for Sustainable Development of Tourism United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Dirk Glaesser, Department of Business and Management Oxford Brookes University Prof Chris Cooper, dan President of United in Diversity Mari Elka Pangestu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut sebagai salah satu negara dengan alam dan budaya terbaik di dunia, Indonesia terganjal oleh satu hal untuk menaikkan peringkat di tingkat global oleh satu hal. Yaitu health and hygiene (kesehatan dan kebersihan). “Dua hal itu sangat¬† tergantung pada penerapan konsep pariwisata berkelanjutan,” kata dia.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…