Ilustrasi robot (occupycorporatism.com)
Jumat, 3 November 2017 06:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Pakar Kecerdasan Buatan Ini Ramalkan Kehidupan Manusia Masa Depan

Kecerdasan buatan bisa membunuh profesi.

Solopos.com, SLEMAN— Kecerdasan buatan berpotensi membunuh profesi karena semua kegiatan dapat diwakili robot yang berotak seperti manusia. Hal itu dibahas dalam kuliah umum bertajuk Kecerdasan Buatan dari Perspektif Neurosains, di Gedung Sardjito, Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang, Kamis (2/11/2017).

Kuliah tersebut menghadirkan Prof. Taruna Ikrar, ilmuwan yang menekuni bidang farmasi, jantung dan syaraf. Meski berkebangsaan Indonesia, saat ini ia menjabat sebagai Senior Specialist di Departemen Anatomi dan Neurobiologi di Universitas California.

Pada Januari 2017 ia ditetapkan sebagai Profesor sekaligus Dekan di Biomedical Science, The National Health University, California, Amerika Serikat. Hingga 2017 ini, Ikrar yang juga pernah menjadi calon Ketua Umum PB HMI ini telah menemukan 63 penemuan dan mempunyai tiga hak paten di bidang kedokteran. Bahkan pada 2016, ia dimasukkan sebagai calon penerima nobel di bidang kedokteran.

Dalam kesempatan itu Ikrar menyatakan, teknologi yang terus berkembang bahkan hingga sampai pada kecerdasan buatan dengan membuat otak menyerupai otak manusia. Bahkan sudah dilakukan simulasi, sebuah robot yang mampu mendeteksi otak manusia dalam posisi jarak tertentu. Otak buatan itu justru dapat membaca pikiran kelompok lain. Jika terus berkembang, kenyataan itu perlahan akan menggeser profesi karena semua pekerjaan dapat digantikan oleh robot. Selain itu jika otak buatan dikembangkan ke area negatif, akan bisa menghasilkan penjahat.

“Ribuan ratusan sopir nanti bisa kehilangan pekerjaan, dengan adanya koneksi sosial media, networking sistem otak ini. Bahkan nantinya tidak ada rahasia-rahasia-an lagi karena sistem otak bisa terbaca. Dengan kemampuan otak buatan berbagai pekerjaan akan digantikan sama robot,” tegas Ikrar, Kamis (2/11/2017).

Ia menjelaskan, otak akan mampu regenerasi atau memperbarui diri, namun prosesnya berbeda dengan organ lainnya. Dari penemuan tersebut, bahwa kelainan otak dapat diobati, ia pernah membuktikan melalui proses panjang. Kelebihannya, sistem jaringan otak bisa berganti setiap saat, sekitar 15 hingga 200 kali berganti dengan sel yang baru. Meski sistem saraf keseluruhan berganti namun manusia akan tetap dapat mengingat perbuatan masih kecil.

“Bahkan riset saat ini sampai pada tahap sel-sel orang mati diambil yang kemudian bisa dimanfaatkan lagi. Ada yang penelitian dengan dimasukkan ke dalam suhu beberapa derajat dengan harapan jika teknologi memungkinkan kemudian dihidupkan kembali, ini menyalahi kodrat juga tetapi di sisi lain itu dari pendekatan keilmuan,” tegasnya.

Pembantu Rektor Bidang Akademik UII Ilya Fajar Maharika menyatakan, pihaknya sengaja menghadirkan Prof. Ikrar karena dinilai memiliki kemampuan di bidang neurosains yang tidka diragukan lagi. Wawasan yang dimiliki diharapkan dapat menambah keilmuan bagi para akademisi UII, khususnya mahasiswa pasca sarjana.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…