Ilustrasi jalan tol Solo-Kertosono pada pagi bulan Ramadan 2015, Minggu (21/6/2015). (Burhan Aris Nugraha/JIBI/Solopos) Ilustrasi suasana jalan tol Solo-Kertosono pada pagi bulan Ramadan 2015, Minggu (21/6/2015). (Burhan Aris Nugraha/JIBI/Solopos)
Jumat, 3 November 2017 22:30 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Ngantor di Solo, Presiden Jokowi akan Didatangi Petani Terdampak Tol Soker

Kegiatan kerja (ngantor) Presiden Jokowi di Solo kemungkinan akan didatangi para petani terdampak Tol Soker.

Solopos.com, BOYOLALI — Kesabaran para petani terdampak proyek Tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayah Boyolali berada di titik nadir. Mereka dalam waktu dekat bakal sowan ke kediaman Presiden Jokowi untuk menyampaikan benang kusut pertanian akibat proyek tol.

Tekad untuk menemui orang nomor satu di Indonesia ini tercetus dalam pertemuan para ketua kelompok tani se-Kecamatan Sambi dan Ngemplak di Balai Desan Pandeyan, Kamis (2/11/2017). Dalam pertemuan itu, para petani pesimis masalah pertanian bisa terselesaikan tanpa campur tangan Presiden.

“Kita sudah berapa kali menemui Satker Tol, menemui BBWSBS, PSDA Jateng, Dirjen di Kementerian PUPR, hingga mengajak langsung DPR ke lokasi, tapi mana perubahannya?” ujar Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3A) Tri Mandiri, Samidi, dalam forum yang dihadiri jajaran Muspika setempat itu.

Menurut Samidi, satu-satunya langkah untuk memperbaiki kondisi pertanian di wilayah Boyolali ialah menemui Presiden. Sebelum menemui RI 1, kata dia, terlebih dahulu menemui Bupati Boyolali sebagai pimpinan wilayah. “Kita harus segera bergerak bersama-sama. Jangan hanya menunggu. Kita sudah capek,” jelasnya.

Kepala Desa Pandeyan, Sukasno, mengatakan sejak proyek Tol Soker dimulai 2011 lalu, tak kurang 100-am petak lahan pertanian warga terisolasi. Setelah melalui perjuangan panjang, sebagian saluran pertanian mulai dibuatkan.

“Saat ini, masih ada 80-an petak lahan pertanian yang tak jelas nasibnya. Padahal, dulu bisa panen tiga kali setahun. Sekarang, hanya bisa menjadi petani tadah hujan,” jelasnya.

Sekretaris GP3A Tri Mandiri,Slamet BG, mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap dunia pertanian. Pasalnya, fakta di lapangan para petani justru menjerit lantaran terdesak dengan proyek mercusuar Tol. “Ketika proyek tol dimulai, pihak pertama yang menjadi korban adalah kami, para petani. Saluran-saluran air terputus semua,” terangnya.

Kabid PSDA Dinas Pertanian Boyolali, Yofi, mengatakan persoalan pertanian di Boyolali yang cukup krusial ada di Waduk Cengklik dan saluran irigasi yang terpotong Tol. Soal saluran yang terpotong tol, kata dia, tak kurang 31 titik yang bermasalah. Jumlah itu hasil identifikasi bersama-sama di lapangan.

“Namun, sekarang katanya tinggal tiga titik yang bermasalah, yakni di Dibal dan Sindon. Apakah benar, 31 titik saluran bermasalah itu sudah terselesaikan?” tanyanya.

Pihak pelaksana tol yang semestinya hadir dalam acara itu, tak terlihat. Namun, dalam kesempatan sebelumnya, Kepala Satker Tol Soker, Agung Raharjo, menyatakan komitmennya untuk memperbaiki kembali infrastruktur pertanian yang rusak akibat proyek Tol. Proyek perbaikan akan dikerjakan secara bertahap dengan skala prioritas.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…