Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno (tengah) di gedung KPK, Jakarta, Jumat (14/7/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Hafidz Mubarak A)
Jumat, 3 November 2017 18:30 WIB Feni Freycinetia Fitriani/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

Jadi Wagub DKI, Sandiaga Uno Tebang Pilih Pertanyaan Wartawan

Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno dinilai tebang pilih dalam menjawab pertanyaan wartawan di Balai Kota.

Solopos.com, JAKARTA — Anies Baswedan dan Sandiaga Uno mengumbar banyak janji saat kampanye Pilkada Jakarta 2017. Salah satunya soal transparansi atau keterbukaan informasi dalam menjalankan program kerja jika terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Lain dulu, lain sekarang. Ketika keduanya resmi menjadi DKI 1 dan DKI 2, janji itu hanya tinggal janji. Tidak terbukanya informasi untuk warga terlihat saat mereka diwawancarai oleh media massa.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno memang tak pernah menolak untuk diminta komentar. Namun, beberapa kali mantan bos Saratoga itu malah membatasi pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

Alih-alih menjawab semua pertanyaan, dia malah membatasi untuk tiga penanya saja. Itu pun Sandi harus terlebih dahulu mendengar seluruh pertanyaan yang diajukan oleh wartawan. Wartawan yang pertanyaannya tak digubris oleh Sandi pun harus gigit jari karena sesi tanya jawab berlangsung begitu singkat.

Hal ini bertolak belakang dengan kegiatan wawancara yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, baik Joko Widodo (Jokowi), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), atau Djarot Saiful Hidayat. Ketiga mantan Gubernur DKI Jakarta terdahulu itu selalu meluangkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan tanpa memilih.

Menanggapi hal itu, Sandiaga menolak jika dituduh menyeleksi pertanyaan dari media massa. “Saya bukannya seleksi pertanyaan. Saya cuma mau jawab yang relevan dengan agenda rapat,” katanya, Jumat (3/11/2017). Baca juga: Tolak UMP Jakarta, Buruh Sebut Ahok Lebih Ksatria Ketimbang Anies-Sandiaga.

Selain tebang pilih pertanyaan, banyak wartawan yang mengeluhkan keinginan Sandi yang menolak di wawancara di depan ruangan di lantai 2 Blok B. Pasalnya, dia sudah menginstruksikan salah satu staf agar proses wawancara doorstop dilakukan di Balairung, Balai Kota DKI. Hal itu dilakukan agar background wawancara bagus jika masuk televisi.

“Kenapa saya enggak layani doorstop di depan ruangan? Karena waktunya singkat dan orang enggak bisa nunggu lama,” jelasnya.

Jika di Balairung, lanjutnya, baik pemerintah dan media memiliki meeting point untuk menjelaskan isi rapat atau kegiatan di Balai Kota. Sandi pun berjanji akan lebih sering membuka sesi wawancara dengan wartawan.

“Nanti di Balairung kalau bisa kita bikin tiga kali doorstop. Pagi, siang, dan sore sebelum pulang. Kami akan buka sebuka-bukanya,” katanya.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…