Widodo, 25, warga Dusun Kalipakem, Seloharjo, Pundong di lahan cabai miliknya pada Minggu (17/9/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Widodo, 25, warga Dusun Kalipakem, Seloharjo, Pundong di lahan cabai miliknya pada Minggu (17/9/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 3 November 2017 15:55 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Harga Cabai Stabil, Petani Tetap Tak Untung

Harga komoditas cabai cenderung stabil di kisaran Rp11.000 namun petani tidak dapat mengambil banyak keuntungan

Solopos.com, BANTUL –Meski dalam seminggu terakhir harga komoditas cabai cenderung stabil di kisaran Rp11.000 namun petani tidak dapat mengambil banyak keuntungan. Pasalnya akhir tahun ini merupakan waktu panen cabai terakhir dengan hasil panen yang juga pas-pasan.

Salah satu petani cabai Dusun Diro, Seloharjo, Pundong Gemi menuturkan panen sudah dimulai sejak dua bulan yang lalu. Karena masa panen cabai di wilayah Kabupaten Bantul hampir bersamaan, harga cabai pun anjlok hingga di bawah Rp5000 perkilogram. Hal itu dipicu oleh pasokan cabai yang surplus di pasaran.

Tetapi menurutnya setelah sebagian besar petani cabai selesai panen, harga berangsur naik hingga mencapai Rp11.000 perkilogram. Sayangnya, saat harga mulai membaik tanaman cabainya tidak lagi produktif. “Ini tinggal panen sekali lagi,” ujarnya saat ditemui di ladangnya, Kamis (2/11/2017).

Sembari menghabiskan sisa panen cabai, nenek 70 tahun ini menunggu irigasi yang berada tidak jauh dari lahannya itu teraliri air. Sebab meski sudah beberapa kali diguyur hujan, irigasi di wilayahnya belum juga dialiri air.

Sehingga hingga kini Gemi belum bisa mengganti tanaman cabainya dengan padi. Padahal paling lama sebulan ke depan, tanaman cabainya dipastikan sudah tidak berbuah bahkan mati dan harus diganti dengan komoditas lain.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul, Pulung Haryadi mengklaim hingga Desember mendatang mayoritas lahan cabai di Bantul masih berproduksi.

Sehingga perubahan harga di pasaran tidak akan terlalu signifikan dan akan stabil hingga akhir. Lebih jauh ia mengaku lebih mudah memprediksi pergantian masa tanam saat ini, lantaran siklus musim tahun ini normal. Curah hujan pun berada tidak sebanyak tahun lalu yang mencapai 300 mm/detik.

Oleh sebab itu, kini pihaknya tengah berupaya menginventarisir luasan lahan yang dimungkinkan untuk ditanami beberapa komoditas penting seperti cabai dan bawang merah pada musim penghujan.

Sebab menurutnya dua komoditas ini sangat berpengaruh pada inflasi dan berpotensi membuat harga tidak stabil. Sehingga perlu dijaga agar tetap ada pada semua musim tanam.

Pulung menyebutkan ada daerah yang berpotensi ditanami bawang merah saat musim penghujan yakni di pertanian lahan pasir di bagian selatan Bantul. Sedangkan untuk komoditas cabai akan ditanam di Kecamatan Piyungan dan Dlingo.

Selain cabai, akan dioptimalkan pula beberapa jenis tanaman seperti jangung dan kedelai di Kecamatan Dlingo. “Karena Dlingo saat hujan airnya tidak berlebih jadi aman kalau ditanami cabai,” pungkasnya.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…