Demo warga yang menyerukan Save Air Muria berjalan mundur sambil menggeret mainan mobil tangki air demi menjaga ekosisten Gunung Muria, Jateng, Kamis (2/11/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho) Demo warga yang menyerukan Save Air Muria berjalan mundur sambil menggeret mainan mobil tangki air demi menjaga ekosisten Gunung Muria, Jateng, Kamis (2/11/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho)
Jumat, 3 November 2017 08:50 WIB R. Wibisono/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

DEMO WARGA
Aksi Save Air Muria Jalan Mundur

Demo Save Air Muria yang digelar warga Kudus dilaksanakan dalam format aksi jalan mundur.

Solopos.com, KUDUS — Belasan warga Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (2/11/2017), menggelar aksi berjalan mundur untuk menuntut penegakan hukum terhadap pelaku eksploitasi air di Pegunungan Muria Kudus.

Aksi unik warga Kudus tersebut dimulai dengan berjalan mundur mengelilingi Alun-Alun Kudus dan dilanjutkan menuju Kantor Kejaksaan Negeri Kudus di Jl. Jenderal Sudirman. Para peserta aksi yang mengenakan kaus bertuliskan “Save air Muria” juga menarik mainan truk tangki sebagai bentuk protes atas eksploitasi air Pegunungan Muria dengan menggunakan armada truk.

Menurut Ketua Lembaga Pemerhati Aspirasi Publik yang juga koordinator aksi, Achmad Fikri, demo tersebut merupakan bentuk protes warga kepada pemerintah yang tidak kunjung menghentikan tempat usaha penjualan air pegunungan tersebut. Format aksi berjalan mundur dipilih sebagai simbol kemunduran penerapan aturan karena pemerintah setempat tidak segera mengeksekusi pelaku eksploitasi air pegunungan.

Beberapa tempat penjualan air pegunungan yang dianggap mengancam kelestarian lingkungan hidup Gunung Muria, Jateng itu, kata dia, memang sudah diupaya disegel, namun belum ada penindakan lebih lanjut. Beberapa tempat usaha yang beberapa waktu lalu sudah disegel, nyatanya masih beroperasi hingga kini. “Kami melindungi hak-hak petani, karena air bukanlah untuk diperjualbelikan, melainkan untuk kebutuhan bersama,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah tidak boleh kalah dengan pelanggar aturan karena sumber air di Pegunungan Muria Kudus tidak untuk dikomersialkan. Pasalnya, kata dia, air merupakan kebutuhan pokok bagi semua makhluk hidup, air merupakan sumber kehidupan yang tidak dapat tergantikan oleh apapun.

Untuk itu, lanjut dia, dalam pengelolaanya harus tetap menjamin pemenuhan kebutuhan semua mahluk hidup. Ia menganggap selama ini eksploitasi sumber air dari Pegunungan Muria secara ilegal makin tidak terkendali untuk tujuan komersial. “Setiap hari, sekurangnya jutaan liter air dari Pegunungan Muria dieksploitasi,” ujarnya.

Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana telah melakukan sosialisasi, memberikan peringatan sampai tiga kali terkait dengan penghentian pengusahaan sumber daya air, namun diketahui bahwa para pengusaha tersebut tidak mengindahkan karena mereka tetap melakukan kegiatan usaha memperjualbelikan air permukaan tersebut. Padahal, kegiatan mereka melanggar UU No. 11/1974 tentang Pengairan dan melanggar Perda Provinsi Jateng No. 2/2011 tentang Pajak Daerah.

Ia mendesak pemerintah segera mengambil langkah startegis untuk melakukan tindakan eksekusi dan melakukan pengawasan setelah eksekusi demi menjamin praktik eksploitasi air permukaan benar-benar berhenti sehingga kelestarian lingkungan hidup di Gunung Muria, Jateng juga terjaga. Ia mengemukakan pula pentingnya usaha mengembalikan sumber-sumber air tersebut untuk kepentingan irigasi pertanian dan menjamin tidak akan terjadi lagi perusakan lingkungan.

Kajari Kudus Herlina Setyorini menjelaskan bahwa masyarakat bisa langsung melaporkannya secara resmi kepada kejaksaan. “Silakan dilaporkan secara tertulis. Nanti akan kami tindak lanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengungkapkan kepolisian tidak tinggal diam terkait permasalahan yang mengancam kelestarian Gunung Muria, Jateng itu. Pihaknya sudah mengamankan dua truk tangki yang ditengarai melanggar aturan.

Beberapa waktu lalu, para pengunjuk rasa juga menggelar aksi jalan kaki ke Kantor Gubernur Jateng di Kota Semarang untuk menuntut penegakan hukum terhadap pelaku eksploitasi air di Pegunungan Muria Kudus yang dinilai mengancam kelestarian belahan provinsi Jateng tersebut.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…