Ilustrasi rumah sakit (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Jumat, 3 November 2017 18:20 WIB Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Bantul Segera Bangun Rumah Sakit Tipe D

Pemerintah Bantul adakan workshop Pendirian Rumah Sakit tipe D, di Hotel Ros In,Bangunharjo, Sewon Kamis (2/11/2017)

Solopos.com, BANTUL–Pemerintah Bantul adakan workshop Pendirian Rumah Sakit tipe D, di Hotel Ros In,Bangunharjo, Sewon Kamis (2/11/2017).

Maksud dan tujuan kegiatan tersebut adalah untuk sosialisasi, advokasi dan sekaligus juga laporan tentang progres Rumah Sakit tipe D.

MenurutĀ  kepala seksi pelayanan kesehatan dasar, Dinas Kesehatan Bantul Dyah Pangesti Utami dalam membuka laporan workhsopnya berharap dari workshop tersebut terurai solusi berbagai permasalahan yang selama ini ada dalam rangka persiapan pendirian Rumah Sakit tipe D.

“Nantinya juga outputnya tindak lanjut untuk langkah-langkah selanjutnya. Sehingga dapat terealisasi pendirian Rumah Sakit tipeD Bantul ini,” kata.

Dalam pembukaan workhsop yang juga dihadiri Bupati Bantul Suharsono mengatakan pada saat ini diperlukan perbaikan sistem atau sarana prasarana untuk menjamin kesehatan masyarakat dan menghindari biaya tambahan yang di bebankan ke masyarakat yang tidak tentu.

“Fasilitas rumah sakit harus bisa digunakan secara optimal, pasien yang membutuhkan layanan spesialis harus bisa mengakses layanan tersebut dengan cepat dan tetap,”kata Suharsono.

Dirinya juga mengapresiasi kinerja dan upaya dari Dinas Kesehatan Bantul dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat Bantul. “Dengan terus berusaha memperbaiki sistem dan menambah sarana dan prasarana masyarakat sesuai kebutuhan masyarakat Bantul,” ujarnya.

Suharsono mengharapkan dengan forum atau workshop tersebut memunculkan pemikiran-pemikiran strategis sebagai langkah awal yang komperhensif dalam pendirian Rumah Sakit tipe D Bantul.

Dikatakan oleh Suharsono saat ini Bantul hanya memiliki satu Rumah Sakit Daerah, sehingga dibutuhkan pendirian Rumah Sakit baru yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan atau dalam hal ini pendirian Rumah Sakit tipe D.

Dalam pembangunan RS tipe D juga membutuhkan serangkaian pengkajian dan penentuan lokasi menurut Suharsono.

“Penentuan kelas lokasi RS tipe D tetap mempertimbangkan kemudahan akses, proyeksi peluang pengembangan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang mempengaruhi arus mobilitas manusia. Selain itu, pembangunan RS Kelas D juga memperhitungkan pada pertumbuhan demografi dan ekonomi serta pariwisata,” katanya.

Dirinya berharap RS tipe D menjadi pelayan kesehatan yang cepat dan tepat terutama bagi masyarakat kawasan selatan di antaranya Kecamatan Kretek, Sanden, Srandakan dan Bambanglipuro.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Maya Sintowati Pandji mengatakan pembangunan Rumah Sakit ini didasarkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Kenapa di Bantul muncul rencana pembangunan Rumah Sakit dan kenapa muncul rencana tipe D. Jadi di era JKN semua membludak ke Panembahan Senopati yang B dan kemudian, dari BPJS semua harus proses berjenjang. Di Bantul belum ada Rumah Sakit C atau D,” kata Maya.

“Kemudian rekomendasi DPR ke pemerintah daerah bahwa di pemerintah daerah harus membangun Rumah Sakit, tipe C sebenarnya. Setelah kami hitung sumber daya yang harus kami siapkan luar biasanya beratnya. Awalnya tidak penting kelas berapa yang penting kita kaji dulu,” kata Maya.

Untuk penentuan lokasi di Bambanglipuro sendiri menurutnya karena lokasi yang cukup strategis karena pemerintah DIY menghadap ke selatan.

“Juga saat itu Rumah Sakit baru ada Rumah Sakit Ganjuran maka keputusan ada di Bambanglipuro, tapi mungkin juga dikembangkan ke wilayah lain, ini juga karena komitmen yang kuat,” ucap Maya.

Pembangunan ini juga menjawab tantangan pengoptimalan dan peningkatan derajat kesehatan warga Bantul. “Berharap agar pembangunan berjalan lancar dan digunakan sebagaimana mestinya untuk pelayanan kesehatan,” katanya.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…