Burung merpati dilepaskan sebagai penanda peresmian Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, sebagai desa damai, Rabu (1/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Burung merpati dilepaskan sebagai penanda peresmian Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, sebagai desa damai, Rabu (1/11/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Kamis, 2 November 2017 05:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Wahid Foundation Pilih Desa Nglinggi Klaten sebagai Desa Damai, Ini Alasannya

Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, dideklarasikan sebagai desa damai.

Solopos.com, KLATEN — Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, dideklarasikan sebagai desa damai. Nglinggi menjadi satu dari beberapa desa atau kampung damai yang dibentuk di tiga provinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Kegiatan ini diinisiasi lembaga nirlaba Wahid Foundation bekerja sama UN Women. Sebelumnya, deklarasi yang sama dilakukan di Sumenep, Madura, Jatim, dihadiri Presiden Joko Widodo.

Pembentukan kampung damai oleh lembaga pimpinan Yeni Wahid itu dilatarbelakangi keprihatinan munculnya gagasan dan gerakan intoleransi yang kerap berujung pada tindakan kekerasan. Pembentukan kampung damai dimaksudkan menjadi tempat awal bagi persemaian toleransi, antikekerasan, serta kuat dari sisi ideologi dan ekonomi.

Salah satu syarat utama membentuk kampung damai yakni ikatan sosial melalui penguatan di bidang ekonomi serta pemahaman terkait toleransi dan perdamaian. Penguatan ekonomi di Desa Nglinggi dilakukan dengan pendampingan kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang digerakkan perempuan sejak Juli lalu.

Saat ini, ada 14 kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari 17-20 perempuan yang didampingi lembaga tersebut. “Kebetulan perdamaian di desa ini nyambung dengan programnya Wahid Foundation yang masuk melalui kaum perempuan dengan pembinaan dari hulu sampai hilir. Mulai pembentukan kelompok, pelatihan cluster, dan pembiayaan didorong melalui koperasi cinta damai milik Wahid Foundation. Kami selama enam bulan sudah kerja sama dan situasi damai ini akan terus dirawat,” kata Kepala Desa (Kades) Nglinggi, Sugeng Mulyadi, saat ditemui seusai deklarasi desa damai, Rabu (1/11/2017).

Sugeng mengatakan jumlah penduduk Nglinggi yakni 2.458 jiwa. Ia menuturkan selama ini situasi damai di desa setempat tetap terjaga termasuk tradisi lokal seperti sadranan menjelang Ramadan.

“Selama ini kami bisa hidup berdampingan dengan damai meskipun warga berasal dari beragam latar belakang agama. Seperti saat Hari Raya Idul Fitri, umat nasrani ikut membantu melakukan pengamanan. Hal serupa ketika Natal, umat muslim di Nglinggi membantu menjaga keamanan agar beribadah tetap lancar,” katanya.

Setelah dideklarasikan sebagai kampung damai, warga akan membuat kesepakatan dan tata tertib guna merawat perdamaian. “Kami juga terus mengembangkan ekonomi keluarga dan masyarakat. Jika ekonomi keluarga dan masyarakat baik, kebutuhan dasar terpenuhi sehngga bisa menjadi salah satu jaminan terwujudnya perdamaian,” katanya.

Perwakilan Wahid Foundation, Jazuli A. Kasmani, mengatakan di Klaten ada tiga desa yang menjadi pilot project pembentukan desa damai. Selain Nglinggi, ada Desa Jetis, Kecamatan Klaten Selatan, dan Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes.

Jazuli mengatakan ada beberapa indikator desa bisa disebut desa damai salah satunya bisa merawat keberagaman. “Dari hasil identifikasi kami di Klaten ada hampir 100 desa yang terindikasi bisa menjadi desa damai. Namun, ada tiga desa yang menurut kami memiliki indikasi yang kuat menjadi desa damai,” katanya.

Deklarasi Nglinggi menjadi desa damai diawali pembacaan ikrar dari para perempuan yang mewakili masing-masing kelompok. Selain itu, dilakukan penandatanganan prasasti desa damai oleh Plt. Bupati Klaten, Sri Mulyani.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…