Anggota tim Pemkab Sragen menyegel tempat hiburan karaoke di lingkungan RT 032 Dukuh Gunungsari, Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Kamis (2/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Anggota tim Pemkab Sragen menyegel tempat hiburan karaoke di lingkungan RT 032 Dukuh Gunungsari, Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Kamis (2/11/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kamis, 2 November 2017 23:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Tertangkap Petugas Pemkab Sragen, Pemandu Karaoke di Kemukus Ini Blak-Blakan soal Pekerjaannya

Seorang pemandu karaoke di Kemukus, Sragen, bisa mendapat Rp3 juta dalam tiga jam.

Solopos.com, SRAGEN — Terik matahari cukup menyengat, Kamis (2/11/2017) siang. Aktivitas di Dukuh Gunungsari RT 032 dan RT 033, Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, tak ramai.

Dukuh itu masih satu kompleks dengan Makam Pangeran Samodro yang lebih tenar dengan nama Gunung Kemukus. Beberapa warga duduk-duduk sambil mengobrol di teras. Ada yang menjaga warung kelontong sambil bercengkerama dengan anaknya yang masih balita. (Baca: Petugas Amankan 2 Pemandu  Karaoke Usia Belasan Tahun, Salah Satunya Tengah Hamil)

Beberapa warung kopi masih tutup. Sejumlah tempat indekos juga lengang ditinggal penghuninya untuk sementara.

Aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparat TNI dan Polri serta Dinas Sosial menggeledah kamar-kamar indekos. Ada kipas yang masih berputar. Ada bau hand body seperti baru saja dipakai si empunya.

Charger ponsel juga tertinggal. Bahkan ada ponsel yang tertinggal. Ada pula beberapa bungkus kondom yang belum terpakai. Tetapi tak satu pun penghuni tempat indekos ditemukan.

Sebuah rumah paling mewah di kawasan itu menjadi perhatian aparat. Pintu besi terkunci dengan gembok stainless berukuran besar. Sugiyanto, warga Tanon, yang tinggal di depan rumah itu dipercaya sebagai penjaganya.

Laki-laki bertubuh kurus dan pendek itu membukakan gembok dan pintu rumah milik warga Girimargo, Kecamatan Miri, itu. “Hanya dua orang yang tadinya mau berkemas meninggalkan tempat indekos,” ujar Sugiyanto yang belakangan diketahui tak jujur.

Petugas menggeledah setiap ruang hingga ke ruang karaoke di lantai dasar. Dengan melewati tangga menurun selebar 1,5 meter, petugas menemukan ruang-ruang kosong yang bersih dan didesain untuk berkaraoke orang banyak.

Ada juga ruang-ruang berukuran 2 meter x 3 meter yang terlihat masih ada penghuninya. Sugiyanto masih kukuh menjawab hanya dua orang yang tinggal.

Petugas tak kurang akal. Salah satu petugas melihat ada perempuan belia sibuk mengiris bawang merah di warung Sugiyanto. Ia curiga perempuan itu bukan istri Sugiyanto tetapi salah satu penghuni kamar rumah mewah itu. “Kamu istrinya bapak itu?”

“Bukan, saya yang tinggal di salah satu kamar di depan,” ujar Y, 19, seorang pemandu karaoke asal Suruh, Salatiga. Begitu berdiri, Y ketahuan perutnya buncit karena mengandung bayi berumur enam bulan.

Dengan berjalan agak rebah ke belakang, Y menunjukkan kamarnya. Beberapa lembar keterangan identitas Y diminta petugas.

Y tinggal di rumah itu selama tiga tahun terakhir. Ia tak sendirian tetapi ada enam teman dengan pekerjaan sama di tempat itu. Selain mereka ada tiga orang operator karaoke, dan seorang ibu majikan bersama anaknya.

“Tadi ada orang bermotor memberi tahu ada operasi dari kabupaten. Mereka pergi naik mobil untuk menghindari operasi sekaligus berwisata ke Umbul Ponggok. Saya tidak ikut karena sedang mengandung,” ujarnya.

Y berkisah banyak tentang pekerjaannya. Ruang karaoke di tempat itu tarifnya Rp170.000 per jam untuk rombongan. Tarif pemandu karaoke Rp70.000 per jam tetapi Y menerimanya hanya Rp60.000 per jam karena yang Rp10.000 per jam dipungut ibu majikannya.

Kendati hamil, Y masih melayani tamu memandu karaoke selama tiga jam, yakni buka pukul 21.00 WIB tutup 24.00 WIB. Penghasilan Y sungguh di luar dugaan.

“Saya sehari bisa dapat Rp1 juta. Ya, paling banyak dari saweran tamu. Ada juga yang memberi pelayanan plus-plus. Ada dua orang di sini. Penghasilan mereka banyak. Sekali main saja tarifnya Rp900.000 per orang. Itu belum termasuk dari karaoke. Kalau yang plus-plus tidak dipotong Ibu,” tambahnya.

Pada Rabu (1/11/2017) malam, Y mengungkapkan tamunya cukup banyak. Tamu gelombang pertama ada 15 orang, gelombang kedua ada 30 orang, dan terakhir tinggal empat orang. Kalau karaoke tutup pukul 24.00 WIB tetapi kalau untuk mabuk bisa sampai pagi.

Pelanggan Y kebanyakan dari luar kompleks Kemukus bahkan ada yang masih pelajar atau anak-anak. “Ada yang masih SMP dan SMA yang main ke sini. Yang SMA itu pernah minta plus-plus sama mbak-mbake,” katanya.

Selain Y, petugas juga menemukan N, 16, asal Sukoharjo. Kendati masih anak-anak, ia sudah memiliki satu anak karena jadi korban lelaki hidung belang yang tak bertanggung jawab. Ia nekat terjun ke dunia hitam setelah drop out dari bangku sekolah tingkat SMA kelas XI.

“Saya baru tiga bulan tinggal di sini. Pekerjaannya ya ikut mami itu,” ujarnya. Akhirnya, Y dan N dibawa ke Dinas Sosial untuk menjalani rehabilitasi.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…