Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Bantul, Amir Syarifudin [Kanan] mendengarkan paparan warga Desa Temuwuh tentang persoalan seleksi pamong desa, saat audiensi di Ruang Sidang Komisi DPRD Kabupaten Bantul. Selasa (27/12/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Bantul, Amir Syarifudin [Kanan] mendengarkan paparan warga Desa Temuwuh tentang persoalan seleksi pamong desa, saat audiensi di Ruang Sidang Komisi DPRD Kabupaten Bantul. Selasa (27/12/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 2 November 2017 16:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Seleksi Dukuh Janggal, Warga Geruduk Balai Desa

Warga protes proses seleksi dukuh janggal.

Solopos.com, BANTUL— Seleksi kepala dukuh Dusun Nambangan Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Bantul dinilai janggal. Buntutnya, puluhan warga setempat menggeruduk Balai Desa Seloharjo Kamis (2/11/2017) pagi. Puluhan warga yang berasal dari Padukuhan Nambangan RT 01, 02, 03 dan 04 menuntut adanya penjelasan terkait dengan kejanggalan tes seleksi kepala dukuh yang dilaksanakan pihak ketiga sebagai tim seleksi.

Koordinator Aksi, Yatimun, menuturkan warga menilai ada kejanggalan pada ujian praktik seleksi pemilihan dukuh tersebut. Sesuai yang disampaikan pihak ketiga saat sosialisasi pada warga, hanya ada dua komponen dalam ujian praktik dengan bobot 35% yakni kemampuan pidato dengan nilai 25% dan komputer 10%.

Namun pada pelaksanaannya ada tambahan komponen yakni praktik surat menyurat. Sehingga salah satu calon yang pada saat praktik pidato dianggap bagus oleh warga, malah mendapatkan nilai terendah. “Kami mensinyalir ada kecurangan karena yang diujikan berbeda dengan yang disosialisasikan,” ujarnya ditemui di sela-sela demo.

Kesimpulan tersebut diambil sebab menurut Yatimun warga mengawal seleksi dukuh ini dari awal hingga hasil tes diumumkan pada Sabtu (28/10/2017) lalu. Menurutnya setelah mengetahui hasil seleksi, beberapa warga langsung berkomunikasi secara informal pada Lurah Seloharjo dan pihak panitia sembilan (penyelenggara seleksi dukuh) untuk menyampaikan protes. Baru pada Minggu (29/10/2017) siang, Pemdes memfasilitasi warga untuk bertemu secara formal dengan panitia serta menghadirkan keempat calon yang ikut seleksi.

Dalam pertemuan itu disetujui Pemdes memfasilitasi warga bertemu dengan pihak ketiga yaitu Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja pada Senin (30/10/2017). “Tapi ketuanya sedang di luar kota, kami akan bertemu lagi Sabtu depan untum mengklarifikasi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Sembilan Arif Yulianto, menekankan tidak ada campur tangan panitia dalam proses seleksi dukuh ini dan seluruh tahapan telah dilaksanakan sesuai prosedur. Terkait tambahan komponen di ujian praktik, pihaknya mengaku tak tahu menahu akan hal tersebut. Sebab sesuai MOU dengan pihak ketiga, hanya ada dua komponen pada ujian praktik dengam bobot pidato yang lebih tinggi dari komputer.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…