Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo (tengah), berserta jajarannya, meninjau Jembatan Sabrang Wasis Waskitha di Jebres, Solo, Jumat (24/3/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos) Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo (tengah), berserta jajarannya, meninjau Jembatan Sabrang Wasis Waskitha di Jebres, Solo, Jumat (24/3/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 2 November 2017 10:15 WIB Asiska Riviyastuti/JIBI/Solopos Solo Share :

Pemkot Genjot Pembangunan Infrastruktur di Solo Utara pada 2018

Pemkot Solo fokus mengembangkan Solo Utara tahun depan.

Solopos.com, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mendorong pengembangan investasi di wilayah Solo bagian utara di tahun 2018. Pembangunan infrastruktur pun bakal digenjot untuk menarik investor.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Solo, Toto Amanto, menyampaikan saat ini Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Solo sedang melakukan kajian pengembangan wilayah Solo bagian utara. Nantinya penawaran wilayah tersebut ke investor akan paralel dengan pembangunan infrastruktur dan juga akses.

Tak dimungkiri, selama ini investasi banyak dilakukan di Solo bagian tengah dan selatan. Namun didaerah tersebut sudah jenuh dan tidak ada lagi lahan yang bisa digunakan. Investor pun ditawari untuk melakukan pembangunan di Solo bagian utara.

Banyak pihak meyakini Solo utara akan berkembang, sejumlah hotel mulai mengarah daerah tersebut, seperti pembangunan Swiss-Belinn. Selain itu, ada juga apartemen yang akan dibangun di daerah tersebut.

Developer juga berupaya menangkap momen tersebut dengan melakukan pembangunan perumahan di daerah Solo utara. Namun hingga saat ini investasi yang masuk ke wilayah tersebut belum signifikan.

“Selama ini cukup banyak yang menanyakan dan mengungkapkan ketertarikan berinvestasi di Solo utara, seperti rumah sakit dan hotel. Namun progress investasi belum signifikan mengingat infrastruktur memang belum seperti di Solo tengah dan selatan. Oleh karena itu, akan dibuat rencana pengembangan investasi bersamaan dengan pembangunan infrastruktur,” ungkap Toto saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (1/11/2017).

Menurut dia, realisasi pembangunan kawasan utara akan dilakukan pada tahun depan. Namun akhir November ini, Solo utara akan ditawarkan ke investor di acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) di Solo. Tak hanya menawarkan investasi di Solo utara tapi sejumlah potensi yang dimiliki Pemkot juga ditawarkan, di antaranya Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) dan Solo Techno Park (STP).

Menurut dia, di depan RSUD dr. Moewardi sudah ada yang menanyakan peruntukan untuk pembangunan mal. Setelah dikaji, kawasan tersebut bisa didirikan pusat perbelanjaan dan DPMPTSP sudah memberikan lampu hijau. Namun dia mengatakan hingga saat ini belum ada yang mengajukan perizinan pembangunan.

“Ada investor yang tanya apakah di depan RS Moewardi bisa dibangun pusat perbelanjaan. Kajiannya memungkinkan untuk dibangun pusat perbelanjaan dan kami sudah membalas secara tertulis pertanyaan dari investor, jadi sudah ada lampu hijau [pembangunan mal]. Namun investor tetap harus memenuhi persyaratan,” kata dia.

CEO Azana Hotel Management, Dicky Sumarsono, menyampaikan pengembangan investasi di Solo memang ada di wilayah bagian utara. Hal ini karena bagian tengah dan selatan sudah penuh. Menurut dia, pengembangan wilayah utara pun juga akan berdampak positif dalam penataan kota dan juga pemerataan pembangunan. Dia menilai asalkan investor memiliki konsep yang menarik dan jelas, tidak menutup kemungkinan usahanya tersebut akan berkembang.

Sementara itu, terkait evaluasi evaluasi investasi yang masuk di Kota Bengawan hingga September mencapai Rp2,8 triliun yang kebanyakan disumbang oleh 65 perusahaan besar. Investasi di sektor perdagangan dan reparasi merupakan yang paling besar memberi sumbangan di triwulan III ini, yakni Rp153,534 miliar yang disusul oleh hotel dan restoran senilai Rp37,9 miliar. Hal tersebut menunjukkan meski kondisi ekonomi makro sedang lesu tapi investasi di Solo masih mampu tumbuh dengan baik.

Toto menilai akses dari dan menuju Solo yang semakin mudah menjadi pertimbangan masuknya sejumlah investasi. Selain itu, upah minimum kota (UMK) yang terjangkau juga menjadi salah satu pilihan. Meski perusahaan besar kebanyakan dibangun di sekitar Solo tapi Kota Bengawan tetap terpengaruh.

“Pertumbuhan investasi ini juga didukung oleh usaha mikro dan kecil yang selalu bertumbuh. Nilainya memang tidak besar tapi pelaku usahanya terus bertambah,” ujarnya.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…