Pertunjukan teater kolosal tentang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda ditampilkan pada perayaan HUT ke-71 TNI di Lapangan Parade Kodam IV Diponegoro, Semarang, Rabu (5/10/2016). (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com)
Kamis, 2 November 2017 18:55 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Patra Padi Gelar Peringatan 232 Tahun Pangeran Diponegoro di Semaken

Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) akan menggelar peringatan 232 Tahun Peringatan Pangeran Diponegoro

 
Solopos.com, KULONPROGO-Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) akan menggelar peringatan 232 Tahun Peringatan Pangeran Diponegoro, di Pendopo Semaken, Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, 9-11 November 2017 mendatang.

Beragam agenda digelar dalam kegiatan bertajuk Gebyar Semaken itu, untuk memeriahkan napak tilas perjuangan pejuang berkuda tersebut.

Ketua Umum Patra Padi, Roni Sodewo mengatakan, Semaken dipilih menjadi lokasi kegiatan, karena merupakan basis perjuangan Pangeran Diponegoro selama dua tahun, mulai dari 1826 hingga 1828.

Selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa basis perjuangan pangeran tersebut ada di Goa Selarong, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Padahal sesungguhnya, Selarong hanya lebih dahulu diangkat sejarahnya oleh warga dan pemerintah setempat.

Selain itu, dalam Babad Diponegoro nama Semaken disebutkan secara khusus, bahwa di titik tersebut, saat perang Diponegoro, banyak korban jatuh dari pihak Belanda.

“Untuk memeringati sejarah Diponegoro, kami mengadakan pergelaran wayang kulit Diponegoro, lomba mewarnai gambar Diponegoro, pentas kesenian yang mengangkat potensi seni Kalibawang, pameran tosan aji, pengajian dan campur sari. Selain itu kami mengadakan pameran salinan peta kuno, yang berkaitan dengan perang Diponegoro,” kata dia, Kamis (1/11/2017).

Total ada 15 lembar peta yang akan dipamerkan, peta itu berasal dari 1811 hingga 1932. Patra Padi merasa perlu untuk mengenalkan peta tersebut kepada khalayak, karena ingin memberikan edukasi, bahwa sesungguhnya ada banyak lokasi petilasan perjuangan Pangeran Diponegoro di Kulonprogo.

Kendati demikian, dengan adanya perubahan peta, maka banyak nama-nama tempat yang berubah nama, bahkan tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat di masa kini.

Contohnya, Sambiroto. Saat ini masyarakat lebih banyak mengenal Banyuroto, nama-nama desa lain yang hilang misalnya Rejoso, Kedunggubah. Atau status Wates yang pada masa dahulu bukanlah sebuah kota, melainkan Pengasih, Sentolo, Nanggulan, Kalibawang. Selain itu, sejarah Panjatan pada 1811 yang merupakan segara anakan.

Ketua Panitia Gebyar Semaken, Agung Sugiyanto mengatakan, kegiatan juga akan dimeriahkan dengan angkringan dan kedai kopi. Namun Gebyar Semaken lebih menitikberatkan pada kegiatan budaya, dengan harapan agar masyarakat dan anak muda Kulonprogo mengenal sejarah di kota mereka. Selain itu, agar pariwisata di Kalibawang tidak menggusur budaya yang ada dan lestari sejak lama.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…