Kexin Zhang dan Karyanya Kexin Zhang, seniman asal Tiongkok bersama beberapa karyanya bertajuk The Kite yang dipamerkan di Langgeng Art, Rabu (1/11/2017). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Kamis, 2 November 2017 20:55 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Kexin Zhang Tampilkan Jejak Perjalanan Cheng Ho dan Kedekatan Budaya Tiongkok di Indonesia

Kexin juga menampilkan gambaran kehidupan masa lalu masyarakat muslim Indonesia dan Tiongkok yang harmonis
Solopos.com, JOGJA-Pluralisme di Indonesia menarik minat seniman asal Tiongkok, Kexin Zhang. Melalui karyanya bertajuk The Kite, gambaran keberagaman budaya, etnis dan agama menampilkan kedekatan Indonesia, Thailand, dan Tiongkok di masalampau.
Dalam karya tersebut, Kexin Zhang, seniman asal Tiongkok ini juga menyoroti kehidupan masyarakat muslim di Jawa, serta jejak sejarah Laksamana Cheng Ho, seorang kapitan Tiongkok berdarah Arab yang menyebarkan budaya Tiongkok di Malaka, Thailand dan Indonesia.
Layang-layang merupakan salah satu peninggalan budaya dari peradaban kuno di Tiongkok. Bentuk permainan yang sudah sangat tua ini hampir dapat ditemukan di mana saja. Melalui media ini, keberagaman budaya, akulturasi budaya, dan sejarah Tiongkok dan Asia Tenggara di masa lampau dituangkan.
“Kami melakukan riset yang panjang untuk membuat karya-karya ini. Kurang lebih enam bulan, proses penggarapan karya yang terdiri dari lukisan, fotografi, instalasi dan videografi,” ujar Kexin saat ditemui di Langgeng Art, di mana karya-karyanya
dipamerkan, Rabu (1/11/2017).
Karya yang cukup unik dan menarik perhatian yakni layang-layang yang dibuat Kexin sebagai kostum. Ada tiga kostum layang-
layang yang dibuat Kexin di atas kain putih yang dibentuk seperti naga. Kostum ini didesain dan dijahit sendiri oleh Kexin
dan istrinya, Margaret Zhang.
Pada kain-kain tersebut berbagai gambar dan kisah tentang sejarah dan budaya Tiongkok, muslim Indonesia, Malaka dan Thailand terpampang dalam beberapa helai kain. Kexin melekatkan gambar-gambar simbolis seperti kapal pelayaran Cheng Ho, foto keluarga Cheng Ho dengan gadis-gadis Tiongkok dan muslim, hingga silsilah.
Bahkan, Kexin juga menampilkan gambaran kehidupan masa lalu masyarakat muslim Indonesia dan Tiongkok yang harmonis. Sebuah gambar tentang Gus Dur juga hadir di antara lukisan Budha dan kisah Cheng Ho di Malaka. “Saat kami ke Surabaya, beberapa vihara di sana memasang gambar Gus Dur. Ternyata beliau sangat dikenal baik di antara masyarakat Tionghoa. Lalu inspirasi tersebut yang mencoba ditampilkan Kexin dalam karyanya,” ungkap Margaret.
Karya layang-layang tersebut mencoba dipresentasikan secara unik oleh Kexin. Dia berkeliling ke sejumlah tempat di Jawa
sambil mengenakan dan menjelaskan tentang gambaran sejarah tentang hubungan Indonesia, Muslim, dan Tiongkok di masa lampau.
Kolaborasi sejarah dan seni kontemporer ini merupakan projek kedua yang dilakukan Kexin di Indonesia. Ia mengatakan, banyak inspirasi yang lahir dari dirinya tentang keunikan-keunikan yang dimiliki Indonesia. Tak terkecuali Desa Lasem yang memiliki budaya yang cukup lekat dengan jejak perjalanan Cheng Ho. Bukti sejarah itu tampak pada ornamen batik Lasem yang khas di mana menampilkan gambaran ombak yang identik dengan ornamen Tiongkok.
Dalam karyanya yang akan dipamerkan hingga 10 Desember 2017 mendatang ini, terselip misi untuk mengenalkan Asia Tenggara kepada masyarakat Tiongkok. Kexin mengungkapkan selama ini masyarakat Tiongkok lebih akrab dengan kebudayaan Eropa dan Amerika.
“Masyarakat Tiongkok hampir tidak tahu seperti apa Asia Tenggara ini. Bahkan, Indonesia, mereka mengira ini hanya negara
Islam. Namun, kenyataannya tidak demikian. Jogja terutama, saya suka sekali dengan kota ini, karena kota ini ternyata multi
kultur, banyak budaya di sini. Kami berharap, dengan karya ini kami bisa memberitahu dunia, Tiongkok tentang budaya dan
keunikan Asia Tenggara,” ungkap dia.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…