Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (tengah) mendatangi warganya yang euforia mendaftar program UHC di Dinas Kesehatan Kota Semarang, Kamis (2/11/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Istimewa-Humas Setda Kota Semarang) Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (tengah) mendatangi warganya yang euforia mendaftar program UHC di Dinas Kesehatan Kota Semarang, Kamis (2/11/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Istimewa-Humas Setda Kota Semarang)
Kamis, 2 November 2017 22:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

KESEHATAN SEMARANG
Dinkes Digeruduk Ratusan Warga Peminat Universal Health Coverage

Kesehatan warga dijamin Dinkes Semarang dengan Universal Health Coverage (UHC).

Solopos.com, SEMARANG — Ratusan warga, Kamis (2/11/2017), memenuhi Kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk mendaftar program Universal Health Coverage (UHC) yang memasuki hari kedua penerapan jaminan pelayanan gratis tersebut.

Mereka berdatangan sejak pagi hari demi bisa mendaftar program UHC yang baru saja diluncurkan pada 1 November 2017 oleh Pemerintah Kota Semarang bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Mendengar informasi ada antrean panjang warga untuk mendaftar UHC, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi langsung mendatangi Kantor Dinkes Kota Semarang yang justru membuat banyak warga berganti mengerubutinya untuk menanyakan program itu. “Sebentar, tunggu dulu. Satu per satu-satu per satu,” teriak Hendi—sapaan akrab orang nomor satu—di Kota Semarang itu menanggapi banyaknya warga yang berkerumun dan terlihat tidak sabar hingga membuat antrean menjadi semrawut.

Hendi menegaskan pendaftaran UHC diprioritaskan bagi warga yang sedang sakit dan membutuhkan layanan kesehatan, sementara warga yang tidak sedang sakit tidak usah mengantre dan tidak perlu khawatir tidak tercakup program UHC. “Tapi [kepesertaan UHC] dibatasi tidak, Pak?” tanya seorang warga di belakang politikus PDI Perjuangan itu yang langsung dijawabnya, “tidak dibatasi. Pokoknya begitu panjenengan sakit, ditanggung biayanya.”

Maka dari itu, ia meminta warga yang memang sedang sakit dan membutuhkan layanan kesehatan diberikan kesempatan untuk mengurus terlebih dulu sebab tidak ada batasan pendaftaran UHC sehingga warga tidak perlu khawatir. Ia juga mengkritik sistem pelayanan di Dinkes Kota Semarang yang tidak memakai model antrean, baik menggunakan model kartu atau elektronik, sehingga antrean warga berjalan secara tertib dan tidak semrawut seperti itu.

“Mana Pak Sekretaris [Sekretaris Dinkes]? Harusnya ada pengeras suara untuk menjelaskan bahwa yang sehat tidak usah ikut antre. Kan ini tidak ada batasnya. Tidak usah takut tidak kebagian,” tegas Hendi lagi. Mendengarkan arahan tersebut, baik Kepala Dinkes Kota Semarang Widoyono maupun Sekretaris Dinkes Kota Semarang Sarwoko kompak menjawab siap akan langsung menjalankan evaluasi dari sang atasan tersebut.

Sementara itu, sejumlah warga yang semula berjubel tidak sabar untuk segera mendaftar menjadi sedikit tenang setelah mendapatkan arahan dari Wali Kota dan jajaran Dinkes Kota Semarang, seperti diungkapkan Arif. “Saya sengaja datang ke sini sekarang karena takut enggak kebagian daftar. Ternyata, tidak perlu daftar, katanya nanti saja kalau sakit. Ya, saya mau pulang saja. Sekarang, sudah ayem [tenang] karena tidak dibatasi juga,” katanya.

Senada, Dyah Suparti, warga Simongan Semarang yang ikut mengantre mengeluhkan pelayanan yang diberikan Dinkes Kota Semarang karena justru warga yang tidak sakit diutamakan daftar awal, sementara warga yang sakit malah di belakang. “Banyak warga yang tidak sakit justru diutamakan karena datang awal. Saya ke sini mau mendaftarkan anak saya yang sakit dan mau masuk ke RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro disuruh ngurus di sini dulu. Namun, antreannya banyak begini,” keluhnya.

Program UHC merupakan jaminan pelayanan kesehatan gratis yang diberikan Pemkot Semarang kepada seluruh warganya yang belum tercakup kepesertaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), baik warga mampu maupun tidak mampu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…