Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan kartu e-Toll seusai peresmian jalan tol Semarang-Solo seksi III Bawen-Salatiga di Gerbang Tol Salatiga, Senin (25/9/2017). (JIBI/Solopos/Aloysius Jarot Nugroho) Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan kartu e-Toll seusai peresmian jalan tol Semarang-Solo seksi III Bawen-Salatiga di Gerbang Tol Salatiga, Senin (25/9/2017). (JIBI/Solopos/Aloysius Jarot Nugroho)
Kamis, 2 November 2017 22:30 WIB Arys Aditya/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

Jokowi Sebut Kartu E-Toll Cegah Macet di Gerbang

Presiden Jokowi mengatakan penerapan kartu e-toll untuk mencegah macet di gerbang tol.

Solopos.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa sistem pembayaran tarif tol menggunakan kartu e-toll merupakan salah satu instrumen pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jalan tol.

Dengan penerapan pembayaran berbasis elektronik tersebut, operator berharap pelayanan transaksi pembayaran di gerbang tol dapat lebih cepat. Kecepatan itu semakin menambah kenyamanan perjalanan para pengguna jalan.

“E-toll ini untuk memperbaiki pelayanan kita untuk mempercepat pelayanan sehingga tidak ada yang namanya macet di depan gerbang. Yang kita inginkan itu ke depan seperti itu,” ujarnya seusai menghadiri acara Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi yang dihelat di Desa Brani Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, melalui siaran resmi, Kamis (2/11/2017).

Presiden menjelaskan bahwa hampir semua negara saat ini juga sudah memulai upaya untuk beralih pada pembayaran nontunai dalam transaksi pembayaran. “Semua negara juga melakukan hal yang sama. Kita kan maunya maju, bukan mundur,” sambungnya.

Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap masih adanya sejumlah pengguna jalan tol yang belum siap maupun belum terbiasa dengan kebijakan ini.

Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tetap menyediakan satu pintu gerbang tol yang bisa melayani transaksi tunai maupun nontunai mulai 31 Oktober 2017 kemarin.

Presiden menyadari bahwa mengubah kebiasaan masyarakat dari transaksi tunai menjadi nontunai tidak bisa dilakukan secara langsung. Namun, ia juga mengingatkan bahwa ke depannya masyarakat diharapkan untuk dapat membiasakan diri dalam mendukung program pemerintah menuju Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

“Ini kan ada masa transisi, tidak bisa langsung berubah. Tapi ke depan harus [berubah], karena ini untuk pelayanan dan kecepatan,” ungkapnya.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…