Pedagang menjual berbagai jenis pisang di kawasan Pasar Pakem, Selasa (31/10/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 2 November 2017 11:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Berburu Aneka Jenis Pisang di Pasar Pakem

Buah pisang mudah ditemui saat berkunjung ke Pasar Pakem, Sleman.

Solopos.com, SLEMAN-Buah pisang mudah ditemui saat berkunjung ke Pasar Pakem, Sleman. Puluhan pedagang berjajar rapi di trotoar jalan, tepatnya di
sisi utara pasar, untuk menjajakan beragam jenis pisang. Ada pisang raja, ambon, kepok, susu, emas, dan masih banyak lagi.

“Yang jadi khasnya sini ya pisang emas,” kata salah satu pedagang bernama Latini, 55, Selasa (31/10/2017).

Pisang emas dijual mulai Rp50.000-125.000 per tundun, sementara pisang ambon Rp35.000 per sisir, dan pisang raja Rp150.000 per dua sisir (setangkep). Ia mengatakan, pisang raja biasanya laris saat musim pernikahan. Pisang raja banyak digunakan kaum mempelai untuk melengkapi piranti pernikahannya.

Latini mengatakan, pisang yang dijual para pedagang berasal dari daerah Klaten, sama dengan asal para pedagang yang semuanya berasal dari Deles, Klaten. Mereka berdagang di situ sejak 2010, tepatnya pasca erupsi Gunung Merapi.

Sebelumnya, mereka membuka lapaknya di kawasan obyek wisata Kaliurang. Dulu, para pedagang terbagi di dua titik yaitu di bawah pohon beringin Kaliurang dan Telaga Putri. Namun pasca letusan besar gunung aktif tersebut, satu per satu di antara mereka pindah ke lokasi yang paling rendah.

“Kula riyin kiyambak pindah wonten Pakem mriki [Saya lebih dulu pindah ke Pakem],” katanya.

Lama-kelamaan, semua pedagang pisang yang awalnya berjualan di Kaliurang kemudian pindah ke utara Pasar Pakem tersebut. Di situ mereka menempati trotoar dan tidak dikenai retribusi. Saat ini, pedagang yang menjual pisang di kawasan trotoar Pasar Pakem tersebut terdapat 13 orang.

Menurut Latini, berjualan di kawasan baru tersebut cenderung lebih ramai. “Kalau di Kaliurang kan hanya [wisatawan] obyek wisata, kalau di sini yang lewat dari Kaliurang bisa mampir dan yang pada ke pasar juga belanja [pisang],” kata Latini.

Latini mengatakan, saat hari biasa, penjualan per hari bisa mencapai 5-10 tundun. Sementara saat libur akhir pekan, penjualannya bisa meningkat drastis. Setiap hari, ia menyetok 50 tundun pisang. “Kalau 50 tundun ya habis lima hari paling. Penghasilan enggak mesti. Kadang Rp200.000, kadang Rp500.000,” katanya.

Jika ada pisang yang sudah sangat masak tetapi belum laku terjual, ia berani membanting harga dan dijual ke pasar. Untuk satu sisir pisang emas, biasanya dijual Rp7.500.

Sementara untuk pisang raja biasanya dibeli oleh pengusaha roti untuk diolah menjadi selai. Selain menjual pisang, Latini juga menjual talas dengan harga Rp12.500 dan ubi jalar Rp7.000 per kg.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…