Ilustrasi pedagang ikan di pasar tradisional. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra) Ilustrasi pedagang ikan di pasar tradisional. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Kamis, 2 November 2017 16:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Ada Pasar Tani dan Pasar Ikan di Bantul

Acara bertajuk Pasar Tani setiap Rabu dan Pasar Ikan setiap Jumat ini digelar di kompleks perkantoran Manding

Solopos.com, BANTUL–Belum maksimalnya kanal promosi produk pertanian dan perikanan, membuat Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul mengadakan program pasar mingguan yang tematik.

Acara bertajuk Pasar Tani setiap Rabu dan Pasar Ikan setiap Jumat ini digelar di kompleks perkantoran Manding. Pesertanya adalah mereka yang tergabung dalam asosiasi pedagang pasar tani maupun ikan ini.

Produk yang dipasarkan di pasar tematik ini beragam, salah satunya olahan daun kelor oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Rejeki, Trirenggo. Daun kelor dibuat menjadi mi, peyek, egg roll, wajik, teh dan berbagai olahan lainnya.

Koordinator KWT Ngudi Rejeki, Haida menuturkan peran pasar tematik dalam memasarkan produk-produk KWT-nya cukup besar. Pasalnya, tak banyak sarana promosi yang dapat digunakan oleh KWT yang merupakan organisasi tingkat desa.

Apalagi produknya masih tergolong baru dan belum banyak diketahui masyarakat luas. “Memasukkan ke toko besar juga butuh biaya,” tuturnya, Rabu (1/11/2017).

Kepala Diperpautkan Bantul, Pulung Haryadi mengatakan program ini dimaksudkan untuk memaksimalkan promosi produk baik pertanian maupun perikanan.

Caranya dengan membawa pasar ke kerumunan, sehingga masyarakat tak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan produk yang berasal dari petani dan nelayan binaan Diperpautkan ini. “Biasanya kerumunan yang datang ke pasar, kalau ini beda,” ujarnya.

Di Pasar Tani misalnya ada sekitar 30 petani dan kelompok tani binaan yang masing-masing memasarkan produk yang berbeda. Mulai dari makanan olahan, hasil kebun seperti buah dan sayuran segar, hingga bibit tanaman. Sedangkan untuk Pasar Ikan, menurut Pulung baru ada sekitar 10 nelayan dan pengusaha olahan ikan yang bergabung.

Khusus untuk Pasar Ikan, Pulung menyebut pasar tematik ini diadakan untuk akselerasi program gemar makan ikan yang dicanangkan oleh Diperpautkan. Sebab hingga kini, jumlah konsumsi ikan masyarakat Bantul masih rendah yaitu hanya 19 kilogram per kapita/tahun, padahal idealnya mencapai 35 kilogram per kapita/tahun.

Padahal jika ditilik dari segi harga, harga ikan jauh lebih murah dan relatif stabil dibandingkan harga daging sapi dan ayam.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…