Kawah Gunung Agung terpantau dari drone milik BNPB. (Istimewa/BNPB)
Kamis, 2 November 2017 19:32 WIB Feri Kristianto/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

253 Orang Naik ke Kawah Gunung Agung Bali untuk Sembahyang

Sebanyak 253 orang memutuskan untuk naik ke kawah Gunung Agung untuk sembahyang mulang pakelem.

Solopos.com, DENPASAR — Sebanyak 253 orang warga dari sekitar Gunung Agung pada Kamis (2/11/2017) subuh memutuskan naik ke kawah gunung untuk melakukan persembahyangan mulang pekelem. Ritual itu dilakukan di tengah larangan naik puncak gunung.

Mereka membawa satu ekor lembu dan sejumlah binatang lain untuk dilemparkan ke kawah gunung setinggi 3.142 mdpl itu untuk memohon keselamatan bagi masyarakat. Koordinator kegiatan, Wayan Bawa, mengungkapkan pihaknya tidak berniat melawan larangan mendekati kawah yang dikeluarkan PVMBG, namun hanya ingin memberikan kurban bagi Gunung Agung.

“Ini murni ngayah, bukan niat melawan pemerintah,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (2/11/2017).

Bawa menuturkan sebanyak 253 orang warga mulai mendaki Gunung Agung pukul 01.00 Wita dari Pura Pasar Agung, dan tiba pada pukul 06.00 WIB. Selang dua jam berikutnya mereka turun kembali ke Pura Pasar Agung dengan selamat.

Menurutnya, keputusan sembahyang di puncak gunung yang masih berstatus waspada tersebut murni dilakukan secara sukarela. Sembahyang di tengah situasi kawah gunung yang berbahaya dilakukan karena mantan Gubernur Bali Dewa Made Beratha mendapatkan pawisik yang kemudian dilaksanakan.

Dia menuturkan tidak ada perasaan takut ketika rombongan naik ke kawah. Bahkan, selama perjalanan ke atas, lembu yang akan dikorbankan tidak berontak hingga jarak hanya 25 meter sebelum kawah gunung.

Bawa mengharapkan paska persembahyangan ini, kondisi Gunung Agung akan kembali normal dan memberikan keselamatan bagi seluruh penduduk. Dia menceritakan kondisi di atas gunung terlihat asap sulfatara dan masih banyak binatang seperti monyet berkeliaran.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…