Sejumlah calon pembeli memilih baju bekas layak pakai (awul-awul)di area Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) di Alun-alun Utara, Jogja, Kamis (21/11/2013). Semakin tingginya harga kebutuhan hidup membuat masyarakat kelas bawah cenderung berhemat dengan membeli sandang bekas layak pakai karena harganya murah. (JIBI/Harian Jogja/Gigih M Hanafi)
Rabu, 1 November 2017 21:01 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Pasar Malam Sekaten Belum Dibuka, Pedagang sudah Mulai Buka Stan

Meski pembukaan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) baru dimulai pada 10 November nanti, sejumlah stan sudah mulai didirikan

Solopos.com, JOGJA- Meski pembukaan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) baru dimulai pada 10 November nanti, sejumlah stan sudah mulai didirikan. Bahkan sudah beroperasi. Di antaranya stan awul-awul atau pakaian bekas dan wahana permainan.

Baca juga : Haryadi Minta Pedagang dan Tukang Parkir Jangan Aji Mumpung di Sekaten

Syahrul, 35, salah satu pemilik stan awul-awul di sisi barat alun-alun ini mengaku sudah beroperasi sejak tiga hari lalu. Ia menyewa stan dengan luas sekitar 100 meter per segi. Syahrul mengaku sudah sejak 2007 lalu rutin berjualan di PMPS.

“Awalnya tahu dari teman, sekarang sudah rutin ikut tiap tahun,” kata dia, Rabu (1/11/2017).

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti meminta para pelaku usaha tidak memanfaatkan gelaran Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) di Alun-alun Utara untuk mengeruk keuntungan di luar batas kewajaran, meski event itu dilaksanakan setahun sekali.

Tidak hanya para pedagang, namun juga para pengelola parkir di sekitar Alun-alun tidak nuthuk tarif parkir. “Kalau ada kenaikan tidak terlalu tinggi. Pokoknya jangan menggunakan event sekaten sebagai aji mumpung,” kata Haryadi di Balai Kota Jogja.

PMPS akan digelar pada 10-30 November mendatang di Altar. Ada 486 stan yang turut memeriahkan PMPS mulai dari stan permainan, pakaian, dan kuliner.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…