Ilustrasi razia sepeda motor (JIBI/Solopos/Dok.) Ilustrasi razia sepeda motor (JIBI/Solopos/Dok.)
Rabu, 1 November 2017 14:10 WIB  Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Dua Pekan, Polres Sragen Tilang 1.250 Orang

Satlantas juga menilang 500-an pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang nekat membawa motor saat bersekolah.

Solopos.com, SRAGEN — Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sragen menilang 1.250 orang yang melanggar aturan lalu lintas selama dua pekan terakhir. Hampir 1.000 orang di antaranya ditilang karena melanggar jalur sistem satu arah (SSA) yang dibuat Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen pada September 2017 lalu.

Selain itu, Satlantas juga menilang 500-an pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang nekat membawa motor saat bersekolah di wilayah Kecamatan Gondang, Jenar, Kedawung, Tanon, Tangen, Karangmalang, dan Gesi.

Penjelasan itu disampaikan Kasatlantas Polres Sragen AKP Dwi Erna Rustanti mewakili Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman saat ditemui wartawan seusai gelar pasukan Operasi Zebra Candi 2017 di Lapangan Tangsi Mapolres Sragen, Rabu (1/11/2017). “Pelanggaran di SSA paling dominan dan terus ditindak. Sosialisasi sudah jelas, rambu-rambu jelas. Ternyata sejak 19 Oktober lalu, hampir 1.000 orang yang kami tilang karena melawan arus SSA. Mereka mau tahu, tidak tahu, atau alasan lainnya tetap ditindak,” ujar Erna, sapaan akrabnya.

Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman (kiri) menyematkan pita kepada personel Dishub Sragen dalam gelar pasukan Operasi Zebra Candi 2017 di Lapangan Tangsi Mapolres Sragen, Rabu (1/11/2017). (Istimewa/Humas Polres Sragen)

Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman (kiri) menyematkan pita kepada personel Dishub Sragen dalam gelar pasukan Operasi Zebra Candi 2017 di Lapangan Tangsi Mapolres Sragen, Rabu (1/11/2017). (Istimewa/Humas Polres Sragen)

Erna menyebut ada 1.250 orang yang sidang di Pengadilan Negeri (PN) gara-gara kena tilang personel Satlantas. Pelanggaran melawan arus SSA itu, kata dia, terjadi di Jl. W.R. Supratman Meteor Pasar Kota, Jl. Setiabudi, dan Jl. Veteran atau Jl. R.A. Kartini. Erna menyampaikan warga sering kali curi-curi waktu saat petugas tidak ada. “Bahkan ada mobil petugas saja nekat. Nanti kami akan tempatkan personel di jalur SSA itu dan juga patroli keliling,” ujarnya.

Jalur SSA itu menjadi daerah operasi Satlantas dalam Operasi Zebra Candi 2017 yang dimulai pada Rabu-Selasa (1-14/11). Selain itu, Erna menyebut sasarannya para pengendara motor yang tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia (SNI), tidak memiliki kelengkapan bermotor seperti surat-surat dan kelengkapan motornya, serta pelanggaran aturan lalu lintas.

“Orang tidak punya SIM [surat izin mengemudi] saja sebenarnya denda maksimalnya sampai Rp1 juta. Pelat yang tidak sesuai seperti AD 44 JA tetapi dibuat AD4 4JA itu juga ditilang. Penggunaan lampu rotator, tidak menyalakan lampu di siang hari, itu ditindak semua. Kami sudah tidak ada toleransi atau teguran,” tambahnya.

Dia menyampaikan operasi zebra tidak hanya di wilayah perkotaan seperti Masaran, Sragen Kota, dan Sambungmacan tetapi juga dilakukan di daerah perdesaan, terutama di dekat sekolah dan tempat-tempat ramai atau rawan kecelakaan. Dia menyatakan selama tidak di pekarangan orang maka itu masih menjadi wewenang Satlantas, terutama anak-anak SMP yang belum waktunya mengendarai motor.

“Ada 500-an pelajar yang ditilang di Gondang, Jenar, Kedawung, Tanon, Tangen, Karangmalang, dan Gesi. Razia pelajar juga berlanjut terus. Kami tidak gentar meskipun dikiritik. Ojo dumeh bisa membelikan motor tetapi justru membahayakan anak mereka sendiri,” tambahnya.

Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman menyampaikan operasi zebra ini merupakan upaya awal atau cipta kondisi sebelum Operasi Lilin menjelang Natal dan Tahun Baru 2018. Dia mengatakan cara-cara dalam operasi dilakukan dengan cara-cara humanis dan output yang diharapkan agar tercipta kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.

“Pemilihan lokasi disesuaikan dengan pertimbangan kajian, seperti angka kecelakaan tinggi dan pelanggaran tinggi. Banyaknya pelajar yang melanggar itu menjadi keprihatinan semua pihak. Ada nilai yang ingin ditanamkan, yakni menyelamatkan jiwa anak-anak kita. Jadi ada cara lain yang lebih aman, seperti bersepeda,” tuturnya.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…