Rumah Ny. Slamet di Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, bertahan di tengah proyek parapet Bengawan Solo. (Hijriyah/JIBI/Solopos) Rumah Ny. Slamet di Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, bertahan di tengah proyek parapet Bengawan Solo. (Hijriyah/JIBI/Solopos)
Selasa, 31 Oktober 2017 20:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

Ganti Rugi Ditambah Rp10 Juta, Warga Terdampak Parapet Bengawan Solo Bergeming

Warga terdampak pembangunan parapet Bengawan Solo tetap bergeming meski ditawari ganti rugi lebih besar.

Solopos.com, SOLO — Warga bantaran Sungai Bengawan Solo wilayah Kelurahan Semanggi Pasar Kliwon pemegang sertifikat hak milik (HM) yang terdampak proyek penanganan banjir berupa pembangunan parapet bergeming meski ada tawaran penambahan ganti rugi.

Mereka tetap meminta relokasi murni kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Meskipun mulai “terisolasi” tembok tanggul parapet, warga memilih tetap bertahan selama belum ada kecocokan nilai ganti rugi baik ganti rugi tanah maupun ganti rugi bangunan. (Baca: Mereka yang Bertahan di Balik Tanggul Parapet Bengawan Solo)

Nilai ganti rugi tanah yang ditawarkan Rp500.000 per meter persegi. Selain itu, Pemkot Solo juga menambah nilai ganti rugi bangunan dari Rp8,5 juta menjadi Rp10,5 juta, namun warga tetap menolak.

Opsi relokasi pernah disampaikan warga karena hingga saat ini belum juga ada kesepakatan terkait nilai ganti rugi. Warga RT 005/RW 003 Kelurahan Semanggi, Nusa Aksara Daryono, menjelaskan sebagai perwakilan warga bantaran pernah menyampaikan kepada Pemkot Solo agar warga diberi tanah dan dibuatkan rumah sederhana.

“Jadi programnya relokasi murni, Pemkot kan bisa cari tanah ara-ara di Solo itu masih banyak sekali. Tapi sepertinya Pemkot tidak mengindahkan opsi kami dan lebih memilih tebas lepas, bayar, selesai,” kata Nusa, saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (31/10/2017).

Nusa menjelaskan di Semanggi masih ada puluhan tanah bersertifikat HM yang belum bebas. “Di RW 023 masih ada satu, di RW 005 masih ada 10-an, di RW 004 tinggal enam, dan RW 003 masih ada sekitar tujuh,” kata dia.

Menurut dia, semua warga masih keberatan dengan nilai ganti rugi tanah Rp500.000 per meter persegi serta ganti rugi bangunan senilai Rp8,5 juta ditambah biaya penanganan Rp10 juta. “Pemahaman kami yang dipindah bukan tanah dan bangunan tapi kehidupan. Kami hanya ikhtiar agar bisa mendapatkan ganti rugi yang lebih layak,” tutur Nusa.

Nusa membandingkan nilai ganti rugi senilai Rp500.000 kurang Rp6.000 per meter persegi itu tak sebanding dengan harga tanah di sekeliling kawasan bantaran. Di barat tanggul yang masuk wilayah Losari, Semanggi, harga tanah sudah mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per meter persegi sedangkan di timur tanggul yang masuk wilayah Sukoharjo harga tanah sudah mencapai Rp500.000 hingga Rp700.000/meter persegi.

“Pemerintah belum memperhitungkan yang namanya biaya recovery. Memangnya orang pindah tidak ada dampak psikologis dan sosialnya?”

Camat Pasar Kliwon, Agus Santoso, mengakui warga bantaran Sungai Bengawan Solo yang terdampak proyek parapet pernah mengajukan opsi relokasi murni kepada Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KKP) Solo. “Tapi opsi ini tidak masuk, kebijakannya enggak begitu, untuk warga yang tinggal di tanah negara itu pun tetap cari tanah sendiri yang dikoordinasi kelompok kerja,” kata Agus.

Agus menjelaskan Pemkot Solo sudah memberikan tambahan biaya penanganan ganti rugi bangunan dari sebelumnya Rp8,5 juta menjadi Rp18,5 juta, selain ganti rugi tanah senilai Rp500.000 per meter persegi. “Jadi ada tambahan Rp10 juta. Tapi untuk masalah anggaran kewenangannya ada pada Disperum KKP, kami dari kecamatan hanya berusaha memfasilitasi dan melakukan pendekatan ke warga.”

Dia menyebut proses pembebasan terus berjalan. Pemangku wilayah bahkan siap memfasilitasi satu per satu warga karena pembebasan tanah untuk proyek ini sudah terlalu sulit jika dilakukan secara kolektif.

“Jadi kalau ada satu warga yang siap, ya sudah langsung ajukan ke dinas. Satu per satu nanti juga selesai. Saya yakin dengan pendekatan ke orang per orang mereka akan menerima nilai ganti rugi yang pemerintah tawarkan.”

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…