Penari menghibur peserta workshop bertajuk Strategi Pemasaran Produk Kreatif ke Luar Negeri di Jawa Dwipa Heritage Resort & Convention Karangpandan, Sabtu (28/10/2017). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos) Penari menghibur peserta workshop bertajuk Strategi Pemasaran Produk Kreatif ke Luar Negeri di Jawa Dwipa Heritage Resort & Convention Karangpandan, Sabtu (28/10/2017). (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)
Senin, 30 Oktober 2017 13:15 WIB Ponco Suseno/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

Ini Penyebab Produk Industri Kreatif di Daerah Sulit Tembus Pasar Ekspor

Bekraf mendorong daerah mengembangkan potensi ekonomi kreatif.

Solopos.com, KARANGANYAR – Sejumlah produk industri kreatif di berbagai daerah di Tanah Air dinilai masih kesulitan menembus pasar Internasional. Guna menyikapi persoalan itu, DPR Republik Indonesia (RI) mendorong Badan Ekonomi Kratif Indonesia (Bekraf) agar rutin mengadakan bimbingan teknis (bimtek) ke pelosok Tanah Air.

Pada Sabtu (28/10/2017), Direktorat Pengembangan Pasar Luar Negeri Bekraf menggelar workshop bertajuk Strategi Pemasaran Produk Kreatif ke Luar Negeri di Jawa Dwipa Heritage Resort & Convention Karangpandan Karanganyar. Hadir dalam kesempatan itu, puluhan pelaku ekonomi kreatif di Karanganyar dan sekitarnya. Workshop yang dihadiri anggota Komisi X DPR, Laila Istiana, itu dibuka Kasubdit Pasar Segmen Ritel Direktorat Pengembangan Luar Negeri Bekraf, Noviza Dwiarti Arsyad T.

“Kalau kami berperan di pengawasan. Kami terus mendorong agar ekonomi kreatif berkembang. Makanya, kami mengajak Bekraf agar sampai daerah-daerah. Jangan hanya kota-kota besar,” kata Laila Istiana, saat ditemui wartawan di Jawa Dwipa, Sabtu.

Kasubdit Pasar Segmen Ritel Direktorat Pengembangan Luar Negeri Bekraf, Noviza Dwiarti Arsyad T., mengatakan keberadaan ekonomi kreatif di Tanah Air perlu didorong dan diperkuat guna menunjang ekonomi nasional.

Belasan sektor yang terdapat di industri kreatif, di antaranya seperti, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fotografi, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, serta beberapa sektor lainnya.

“Memang, belum banyak industri daerah yang mencapai kualitas ekspor, yang di daerah baru di Jogja. Kami melihat potensi ekonomi kreatif di daerah sangat banyak. Saat ini, kami menggelar acara di Karanganyar. Kami meyakini Karanganyar memiliki banyak potensi juga,” katanya.

Noviza mengatakan era globalisasi menjadikan persaingan antarnegara berjalan sangat ketat. Ekosistem pendukung ekonomi kreatif harus berjalan sinergis, yakni akademisi, dunia usaha, komunitas, dan peran media.

“Persoalan yang sering dihadapi di lapangan, seperti rendahnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja, kebijakan pemerintah, sektor ekonomi kreatif belum dapat menarik investor, dan beberapa hal lainnya,” kata dia.

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…