Kapolres Wonogiri, AKBP Muhammad Tora, menunjukkan tersangka pencabulan, S, saat gelar perkara di Mapolres Wonogiri, Kamis (27/10/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos) Kapolres Wonogiri, AKBP Muhammad Tora, menunjukkan tersangka pencabulan, S, saat gelar perkara di Mapolres Wonogiri, Kamis (27/10/2017). (Ahmad Wakid/JIBI/Solopos)
Jumat, 27 Oktober 2017 17:35 WIB Ahmad Wakid/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PENCABULAN WONOGIRI
Begini Modus Guru SD Girimarto Cabuli 18 Siswinya 

Seorang guru SD di Girimarto, Wonogiri, ditangkap polisi lantaran mencabuli belasan siswi.

Solopos.com, WONOGIRI — Pencabulan yang dilakukan seorang guru SD di Girimarto, S, 49, terhadap 18 siswinya dilakukan dengan sejumlah modus. Sementara itu, para korban perbuatan asusila guru tersebut trauma terhadap guru laki-laki. Kepercayaan mereka terhadap guru laki-laki berkurang.

Kapolres Wonogiri, AKBP Muhammad Tora, mengungkapkan salah satu korban sudah disetubuhi S. Guru mata pelajaran Olahraga itu menyuruh korban membonceng sepeda motor saat pelajaran Olahraga menuju lapangan.

Sedangkan siswa dan siswi lainnya berjalan kaki dari sekolah menuju lapangan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Saat sampai di lapangan lebih dulu, S melancarkan aksi bejatnya terhadap siswi yang diboncengkan tersebut sambil menunggu siswa-siswi lainnya tiba.

Setelah pelajaran Olahraga selesai, S memerintahkan siswa kembali ke sekolah lebih dulu dan mencari korban lainnya dari para siswi. Lalu, perbuatan bejatnya dilakukan kembali di kamar mandi sekolah. “Ada [korban] yang hanya sekali [dicabuli] dan ada yang berulang kali,” ungkap Kapolres kepada wartawan, Jumat (27/10/2017).

Kapolres menegaskan korban pencabulan berdasarkan visum ada 18 siswa, dua di antaranya merupakan anggota polisi cilik (polcil). Ketika ditanya kapan S melancarkan aksi hingga menyetubuhi korbannya, Kapolres hanya menyebut Oktober.

Dia mengungkapkan tindak asusila itu dilakukan S sejak 2015. Sebelumnya Kapolres menyebut sejak 14 tahun lalu. “Pelaku mengancam korban apabila mengatakan perbuatan itu, mereka tidak diberi nilai dan tidak dinaikkan kelas. Namanya anak kecil diancam seperti itu langsung takut. Kemungkinan korban tidak bertambah lagi,” ujar Kapolres.

Menurut Kapolres, S memiliki tiga orang anak. Siswa-siswi itu menjadi korban karena S bisa mengancam mereka dengan mudah. Mengenai kemungkinan S suka menonton film pornografi, Kapolres menyebut pemeriksaan belum sampai ke situ. Kapolres tidak memberi waktu bagi awak media untuk bertanya kepada S.

Terpisah, Kapala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) P2KBP3A, Rodhiyah, mengatakan sebagian besar korban masih trauma dan tidak bisa memercayai guru laki-laki. Mewakili Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A), Reni Ratnasari, dia mengatakan Dinas P2KBP3A berkomitmen untuk mendampingi korban dalam waktu lama untuk memulihkan kondisi mental mereka.

BP2KBP3A tiap hari datang ke Girimarto bersama psikolog dan rohaniawan untuk mendampingi para korban, Rabu-Kamis (24-25/10/2017). Sementara pada Selasa (23/10/2017) mereka melakukan koordinasi saat kasus tersebut mulai mencuat di permukaan. Pekan depan, pendampingan terhadap para korban akan mulai melibatkan dokter jiwa dan psikolog dari RSUD Wonogiri.

lowongan pekerjaan
BPR BINSANI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Koes Plus dalam Peta Musik Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (08/01/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Jumat, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Beberapa tahun sebelumnya…