Warga melintasi jembatan dari anyaman bambu atau sasak yang menghubungkan Mojolaban, Sukoharjo, dengan Beton, Sewu, Jebres, Solo, Jumat (27/10/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Warga melintasi jembatan dari anyaman bambu atau sasak yang menghubungkan Mojolaban, Sukoharjo, dengan Beton, Sewu, Jebres, Solo, Jumat (27/10/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Jumat, 27 Oktober 2017 18:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

INFRASTRUKTUR SOLO
Berkah Penutupan Jembatan Mojo bagi Warga Semanggi

Sejumlah warga Semanggi di pinggir Jl. Kyai Mojo mendapat berkah dari penitipan motor saat Jembatan Mojo ditutup.

Solopos.com, SOLO — Ratusan pengguna jalan di Jl. Kyai Mojo, Semanggi, Solo, yang hendak menuju Mojolaban Sukoharjo kecele saat mengetahui Jembatan Mojo ditutup, Jumat (27/10/2017).

Di sisi lain, ada beberapa warga Semanggi di pinggir Jl. Kyai Mojo yang mendapat berkah dengan membuka jasa penitipan sepeda motor bagi warga yang enggan memutar terlalu jauh. Mereka menitipkan sepeda motor dan menyeberang ke Mojolaban dengan jalan kaki. (Baca: Jembatan Mojo Ditutup, Pengendara Motor Padati Jembatan Sesek Gadingan-Solo)

Pantauan Solopos.com, Jumat siang, ratusan pengendara motor dan mobil terpaksa putar balik setelah bertanya-tanya kepada warga setempat terkait jalur alternatif terdekat menuju Mojolaban, Polokarto, dan sekitarnya. Kepada pengendara mobil, warga memberi tahu jalur alternatif melalui Jembatan Bacem atau Jembatan Palur, sedangkan kepada pengendara motor, warga menunjukkan jalur alternatif melalui jembatan sesek di Kampung Beton, Kampung Sewu, Jebres.

Sebagian besar pengguna jalan yang kecele itu beralasan tak melihat papan pengumuman pengalihan arus yang sudah dipasang di sejumlah lokasi. Pengumuman pengalihan arus akibat penutupan Jembatan Mojo itu terpasang di perempatan Baturono, perempatan Jl. Serayu-Jl. Kyai Mojo, pertigaan Jl. Sungai Serang-Jl. Kyai Mojo, dan pertigaan Sampangan.

“Sebenarnya tadi sempat lihat pengumumannya di perempatan Baturono, tapi saya kira tidak ditutup total begini, biasanya kan masih bisa buat lewat meski hanya separuh jalan,” kata Aceng, warga Colomadu, yang siang itu mengendarai mobil pikap hendak menuju Mojolaban.

Aceng pun akhirnya putar balik dan memilih jalur alternatif Jembatan Mojo. Dia sempat berpikir mencari jalur alternatif lain yang lebih dekat. “Tapi mana? Ya sudah, lewat Bacem saja.”

Sejumlah warga di sekitar Jembatan Mojo akhirnya turun ke jalan dan menjadi sukarelawan bagi pengguna jalan yang ingin mencari jalur alternatif. Selain menjadi penunjuk arah, warga juga mengatur lalu lintas di pertigaan Sampangan karena kerap menjadi jalur putar balik kendaraan.

Seperti diketahui, Pemkot Solo menutup total Jembatan Mojo karena sedang dalam tahap perbaikan. Pekerjaan berupa perbaikan pelat lantai jembatan dan penguatan baut jembatan menuntut tidak adanya beban pada jembatan. (Baca: Jembatan Mojo Ditutup, Ini Panduan Pengalihan Arus Lalu Lintas)

Meskipun ditutup total, pengguna jalan masih bisa menerobos masuk ke jalur jembatan. Bagi warga atau anak-anak sekolah asal Mojolaban yang hendak ke Solo, memilih untuk berjalan kaki melintasi proyek perbaikan jembatan.

“Nanti dari sini [barat Jembatan Mojo] naik GoJek, atau dijemput teman. Kalau saya, saya siapkan dua motor, satu titipkan di rumah teman saya di Semanggi, satu lagi dititipkan di Mojolaban sana. Di jembatannya jalan kaki. Kalau tidak begitu repot, memutarnya jauh sekali, apalagi saya wira-wiri ini Mojolaban-Solo jemput pekerja dan jemput anak sekolah,” kata Adit, warga Mojolaban.

Menurut Adit, berjalan kaki sepanjang 210 meter di Jembatan Mojo masih jauh lebih efektif dari sisi waktu ketimbang harus memutar lewat Bacem apalagi Palur. Ada juga warga terutama anak sekolah dari arah Mojolaban memilih naik sepeda onthel.

Mereka nekat menerobos pagar pembatas proyek. Di dalam jalur jembatan mereka menuntun sepeda onthel kemudian sepeda itu dilompatkan melalui atas pagar pembatas proyek.

Penutupan Jembatan Mojo rupanya juga menjadi berkah pula bagi warga Semanggi atau ujung timur Jl. Kyai Mojo. Mereka membuka jasa penitipan sepeda motor.

Salah satunya, Sriyono, 61, warga RT 007/RW 005 Semanggi. Awalnya, ada rekannya yang mau ke Mojolaban yang titip motor di rumahnya. “Setelah itu ada lagi yang titip. Sampai siang ini sudah hampir sepuluh sepeda motor yang titip di rumah.”

Kebanyakan warga yang titip sepeda motor di rumahnya adalah warga Semanggi yang bekerja tak jauh dari wilayah Mojolaban. Dia mengaku tak memberikan tarif khusus.

“Ya seikhlasnya saja. Tadi pagi ada yang titip, kemudian siang diambil, terus saya dikasih Rp2.000 ya saya terima saja. Kalau mau dititipkan menginap di sini juga tidak apa-apa,” tutur dia.

Pada bagian lain, sejumlah jalur alternatif menuju Sukoharjo seperti Jl. Brigjen Sudiarto, Jl. Kapten Mulyadi, Jl. Ir. Juanda menuju Palur terpantau padat. Kemacetan sempat terjadi di Jl. Kapten Mulyadi.

Menurut Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, Sri Baskoro, tingkat kepadatan lalu lintas Solo-Sukoharjo via Mojo rata-rata berkisar 1.500 kendaraan hingga 2.000 kendaraan per jam.

“Pada pagi hari dan jam orang pulang kerja, bahkan bisa mencapai 5.000 kendaraan per jam melintasi Jembatan Mojo. Kendaraan sebanyak itu kemudian terbagi ke jalur selatan lewat Bacem dan ke utara lewat Kapten Mulyadi menuju Palur. Jadi, peningkatan kepadatan di jalur alternatif itu sangat signifikan,” papar Baskoro.

Dia memprediksi setelah tiga hari tidak ada lagi pengguna jalan yang kecele. “Asalkan mereka tahu ada pengumuman pengalihan arus di Baturono. Lagi pula ini kan hanya sepuluh hari,” ujar dia.

 

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…