Peti jenazah Erowati Puja Kesuma, 18, dipanggul dari rumah duka di Baturetno, Wonogiri, menuju permakaman umum setempat, Kamis (26/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Peti jenazah Erowati Puja Kesuma, 18, dipanggul dari rumah duka di Baturetno, Wonogiri, menuju permakaman umum setempat, Kamis (26/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Kamis, 26 Oktober 2017 18:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

Mahasiswi IHS Korban Laka Pertigaan UMS Sempat Mendaftar Jadi Polwan

Mahasiswa IHS yang meninggal dunia karena kecelakaan di pertigaan UMS, Kartasura, bercita-cita  jadi polwan.

Solopos.com, WONOGIRI — Minibus berhenti mendadak di depan rumah Kirman, 55, di Balerejo RT 001/RW 009, Watuagung, Baturetno, Wonogiri, tempat bersemayam jenazah anak pemilik rumah, Erowati Puja Kesuma, 18, Kamis (26/10) siang.

Suara tangis penumpang mobil itu terdengar dari luar cukup keras, membuat kedukaan di rumah itu kian mengental. Para pelayat berdiri dari tempat duduk. Seorang lelaki membopong seorang perempuan yang terus menangis histeris dari mobil. (Baca: Mahasiswa IHS Meninggal Dunia akibat Tertabrak Truk di Pertigaan UMS)

Perempuan itu lalu dibopong masuk ke rumah duka. Dia terus menangis dan meronta hingga nyaris terlepas dari bopongan.

Perempuan tersebut Salis Say Ririhena, 23, adalah kakak kandung mendiang Erowati, mahasiswi IHS yang meninggal dunia akibat tertabrak truk di pertigaan UMS, Kartasura, Rabu (25/10/2017) malam.

Perawat yang bekerja di Jakarta itu langsung pulang kampung setelah mendengar kabar kecelakaan adiknya. Tak lama kemudian suasana hening untuk beberapa saat. Setelah tangis Salis berhenti, prosesi pemakaman dimulai.

“Salis memang sangat dekat dengan almarhumah Ero [Erowati],” kata paman mereka, Tohari, 50.

Tohari tak pernah menyangka Ero pergi selamanya secepat ini, terlebih dengan cara tragis. Masih subur dalam ingatannya belum lama sebelumnya dia berjumpa keponakannya itu saat Ero pulang ke rumah. (Baca: Seolah Punya Firasat, IG Story Mahasiswi IHS Korban Laka UMS Bikin Merinding)

“Ero itu orangnya ramah. Kalau saya lewat depan rumahnya pasti menyapa. Biasanya dia menyapa, mau ke mana, Om, atau mangga Om, begitu,” ucap Tohari.

Ternyata, pertemuannya dengan Ero kali itu adalah pertemuan yang terakhir. Di mata keluarga besarnya, anak kedua dari dua bersaudara pasangan Kirman dan Emilyani, 49, itu adalah remaja yang pendiam tetapi tak tertutup.

Mahasiswi semester awal di Internasional Hotel Management School (IHS) baik kepada keluarga, tetangga, dan kerabat-kerabatnya. Sebelum masuk ke IHS, menurut Tohari, Ero sempat menyampaikan keinginan menjadi polisi (polwan).

Ero pernah mendaftarkan diri dalam penerimaan polisi setelah lulus SMA tahun ini. Namun, nasib baik belum menghinggapinya. Hingga akhirnya dia memutuskan melanjutkan pendidikan di IHS.

“Saya mendapat kabar Ero meninggal dunia karena kecelakaan semalam [Rabu malam] pukul 23.00 WIB. Waktu itu tetangga Ero datang menangis. Melihat itu saya sudah menyangka bakal ada kabar buruk. Ternyata benar,” ulas Tohari.

Teman sekolah Ero, Ilham Saputra, 18, dan lulusan SMAN 1 Baturetno, mengaku merasa sangat kehilangan. Menurut Ilham, Ero selalu ramah kepada teman-teman, termasuk dirinya. Dia menyebut Ero mudah bergaul dan tak membeda-bedakan teman.

“Waktu masih sekolah dia aktif di organisasi ekstrakurikuler Purna Caraka Muda. Enggak nyangka Ero pergi secepat ini,” kata Ilham.

Erowati dibawa ke peristirahatan terakhirnya di permakaman umumnya desa tersebut diiiringi keluarga, kerabat, dan teman-temannya.

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…