Keluarga dan tetangga menunggu kendatangan jenazah Wami Windasih di rumah duka, Dukuh/Desa Kandangsapi RT 009/RW 003, Jenar, Sragen, Kamis (26/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Keluarga dan tetangga menunggu kendatangan jenazah Wami Windasih di rumah duka, Dukuh/Desa Kandangsapi RT 009/RW 003, Jenar, Sragen, Kamis (26/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kamis, 26 Oktober 2017 19:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Kandasnya Cita-Cita TKW Sragen Entaskan Keluarganya dari Kemiskinan

TKW asal Jenar, Sragen, meninggal dunia akibat kecelakaan bus di Malaysia.

Solopos.com, SRAGEN — Kepergian Wami Windasih, wanita tenaga kerja atau TKW asal Jenar, Sragen, untuk selamanya akibat kecelakaan bus di Penang, Malaysia, meninggalkan duka yang teramat dalam bagi keluarganya. Wami adalah harapan mereka agar bisa keluar dari kungkungan kemiskinan.

Paman Wami, Wardoyo, menceritakan betapa ia shock saat kali pertama mendapat kabar dari Malaysia. Hari itu, Selasa (24/10/2017) pukul 13.30 WIB. Wardoyo, 26, yang tengah berbincang dengan kakaknya, Wagiyono, 44, ayah Wami, menerima panggilan telepon dari nomor asing. Ia menjawab panggilan telepon itu.

“Apa benar ini keluarga Wami Windasih? Anda siapanya? Kami dari KBRI [Kedutaan Besar Republik Indonesia] di Malaysia menyampaikan kabar Wami meninggal dunia karena kecelakaan bus,” kata seseorang di ujung telepon seperti ditirukan Wardoyo.

Wami Windasih, TKW Sragen yang meninggal dunia dalam kecelakaan bus di Malaysia. (Istimewa)

Wami Windasih, TKW Sragen yang meninggal dunia dalam kecelakaan bus di Malaysia. (Istimewa)

Ia mengaku saat itu hanya bisa terdiam karena shock. Ia tak percaya keponakannya yang masih berusia 19 tahun itu sudah tiada. “Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya juga tidak berani memberitahukan kabar duka itu kepada Mas Wagiyono walaupun dia ada samping saya waktu itu. Saya meminta Pak RT Sunar untuk memberi tahu kakak saya,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com di rumah duka, Dukuh/Desa Kandangsapi RT 009/RW 003, Kecamatan Jenar, Sragen, Kamis (26/10).

Wardoyo langsung mengajak perangkat desa mengklarifikasi kabar itu kepada perusahaan penyalur tenaga kerja ke PT Sony Electro Malaysia yang memiliki kantor cabang di Gambiran, Sragen. Klarifikasi dilakukan Wardoyo sampai ke kantor pusatnya di Jogja. Ternyata kabar itu benar adanya.

Wagiyono pun shock setelah diberi tahu Ketua RT 009 tentang kabar meninggalnya Wami. Tubuhnya menjadi tak berdaya. Bahkan sakit paru-paru yang dideritanya dan masih harus berobat jalan nyaris kambuh. Saat itu Wagiyono sedang di rumah orang tuanya di RT 008. Ia meminta adiknya untuk mengantar pulang.

Sesampainya di rumah, ia meminta mertuanya, Mbah Gemplo, untuk memanggil Parmi, ibu Wami, pulang. Saat itu Parmi berjualan cilok di pinggir jalan Jenar-Kandangsapi.

Wagiyono pun tak kuasa memberi tahu kabar duka itu kepada istrinya. Ia hanya memberi tahu Wami kecelakaan dan luka-luka. Parmi akhirnya tahu anaknya meninggal dunia dalam kecelakaan di Malaysia yang mengakibatkan tujuh orang termasuk Wami meninggal dunia.

Ia jatuh tersungkur begitu mendengar kabar itu. Air matanya tak terbendung. Kabar itu datang dari petugas perusahaan penyalur tenaga kerja bersama perangkat desa, Selasa malam.

Parmi menangis sejak pukul 19.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Sayem. 55, juga ikut shock sampai tidak doyan makan hingga Kamis siang. Kedua adik Wami, Yuli Amipasih yang masih belajar di SMK Jenar dan Dita Ami Fasih yang masih SD tak bisa menahan tangis.

Mereka mendapat kepastian Wami dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sragen akan dipulangkan pada Jumat (27/10/2017) pukul 06.00 WIB lewat Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Wami berangkat bekerja di Malaysia itu bersama sembilan orang dari Jenar. Mereka berangkat pada 23 September 2017 lalu.

“Ya, baru sebulan bekerja di Malaysia. Anak itu lulusan SMK Jenar pada 2016 lalu. Kami tidak punya firasat apa pun. Tetapi Mbah Kari, 70, tetangga yang sudah ompong semua malah bermimpi giginya copot sehari sebelum kabar itu datang,” ujar Wagiyono.

Sekitar setahun Wagiyono tak bisa bekerja sebagai tukang kayu setelah divonis sakit paru-paru oleh dokter. Ia tak bisa bekerja berat dan membantu istrinya jualan cilok. Penghasilan mereka hanya Rp60.000-Rp70.000 per hari. Penghasilan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah kedua anaknya.

“Wami itu pahlawan keluarga ini. Ia bekerja ke Malaysia itu hanya untuk memerangi kemiskinan kami. Mereka sadar, bapaknya tidak bisa bekerja dan penghasilan ibunya hanya dari cilok. Ia nekat berangkat ke Malaysia. Ternyata malah nasibnya seperti itu. Ya Allah ampuni dosa kami!” ujarnya terbata-bata sembari menahan isak tangisnya.

Saat Lebaran, Wami tak pernah meminta apa-apa, meskipun sekadar baju baru saat masih sekolah. Parmi pernah memberi Wami uang Rp100.000 untuk beli baju baru agar bisa seperti teman-temannya.

“Uang itu dikembalikan lagi ke saya Rp60.000. Ia anak yang menerima apa adanya. Dulu waktu sekolah hanya minta laptop untuk mendukung belajarnya di SMK. Saya ya hanya sambat dengan adik saya yang juga menjadi TKW di luar negeri. Kalau sekolah itu hanya bonceng temannya selama dua tahun karena tidak punya sepeda,” kisah Parmi yang ingat perjuangan Wami.

Palang Merah Indonesia (PMI) Sragen memberi sedikit bantuan untuk keluarga itu. Bantuan diserahkan PMI dan diterima Parmi disaksikan Camat Jenar Suharno dan Kedes Kandangsapi Pandu. Tidak ada keluarga yang menjemput jenazah Wami di Jogja, Jumat ini. Wagiyono sudah mewakilkan perangkat desa Kandangsapi, Karno, untuk menjemput jenazah Wami.

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…