Triyono Lukmantoro (Istimewa) Triyono Lukmantoro (Istimewa)
Rabu, 25 Oktober 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Bahasa Tubuh dan Bahasa Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (19/10/2017). Esai ini karya Triyono Lukmantoro, dosen Sosiologi Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang dan mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah triyonolukmantoro@gmail.com.

Solopos.com, SOLO — Politik identik dengan pemakaian bahasa. Bahasa yang diberdayakan dalam dunia politik tidak sekadar bahasa verbal. Kata-kata, kalimat, paragraf, dan aneka pidato pasti menjadi serangkaian strategi dalam politik itu sendiri.

Bahasa verbal menyampaikan makna melalui ucapan dari elite politik kepada kerumunan atau publik. Ada bahasa lain yang menyatu dengan berbagai ungkapan verbal. Itulah yang disebut sebagai sisi nonverbal dalam bahasa politik.

Bahasa nonverbal memang tidak terucapkan secara lantang, tapi hal itu yang justru menarik untuk ditelaah. Bahasa nonverbal politik dapat disimak pada kalangan aktornya, yang secara sadar maupun tidak, menggerakkan bagian-bagian tubuh tertentu.

Bahasa nonverbal politik ini, pada akhirnya, memang bahasa tubuh itu sendiri. Ketika berinteraksi dengan sesama pelaku politik, setiap aktor mempunyai gaya bahasa tubuh yang khas. Ada yang mengangguk-anggukkan kepala dengan mantap untuk menunjukkan tanda kesepakatan.

Ada yang senang menunjuk-nunjuk untuk memberikan perintah dengan garang. Ada pula yang bersikap ngapu rancang untuk menunjukkan kesantunan. Peristiwa menarik bahasa politik nonverbal terjadi saat Presiden Joko Widodo melantik Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta dan Sandiaga Salahudin Uno sebagai wakilnya, Senin sore, 16 Oktober 2017, di Istana Negara.

Ketika memberikan ucapan selamat kepada Anies maupun Sandi, Presiden Joko Widodo sekadar berjabatan tangan. Ada senyum lebar yang menghiasi wajah-wajah yang tampak berbinar-binar itu. Tidak ada adegan cium pipi kanan (cipika) dan, tentu saja, tiada juga aksi cium pipi kiri (cipiki). Rasanya terasa sangat hambar.

Selanjutnya adalah: Berlainan halnya ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla…

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Kanibalisasi Akademis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (11/01/2018). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktoral Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dunia akademis (kampus) dihebohkan dengan isu kapitalisasi dan kanibalisasi akademis sebagai akibat…