Perwakilan pengemudi taksi lokal, pengemudi angkutan umum perkotaan (angkuta), tukang ojek pangkalan, dan pengayuh becak di Solo yang tergabung dalam Barisan Anti Angkutan Ilegal (Bantai) Soloraya mengelar pertemuan di Sekretariat Organda Solo, Jumat (20/10/2017). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Perwakilan pengemudi taksi lokal, pengemudi angkutan umum perkotaan (angkuta), tukang ojek pangkalan, dan pengayuh becak di Solo yang tergabung dalam Barisan Anti Angkutan Ilegal (Bantai) Soloraya mengelar pertemuan di Sekretariat Organda Solo, Jumat (20/10/2017). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Jumat, 20 Oktober 2017 15:15 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

TRANSPORTASI SOLO
Taksi, Ojek, dan Becak akan Mogok Beroperasi Senin (30/10/2017)

Transportasi Solo, pengemudi taksi, ojek dan becak akan mogok untuk berdemontrasi.

Solopos.com, SOLO — Pengemudi taksi lokal, pengemudi angkutan umum perkotaan (angkuta), tukang ojek pangkalan, dan pengayuh becak di Solo yang tergabung dalam Barisan Anti Angkutan Ilegal (Bantai) Soloraya berencana menghentikan pelayanan kepada masyarakat selama 8 jam pada Senin (30/10/2017) pukul 08.00 WIB-16.00 WIB.

Ketua Bantai Soloraya, Pramono, mengatakan perwakilan pengemudi taksi lokal, pengemudi angkuta, tukang ojek pangkalan, dan pengemudi becak di Solo telah menggelar rapat sebanyak dua kali dan bersepakat akan menggelar demo besar-besaran pada 30 Oktober mendatang guna menolak keberadaan angkutan orang berbasis aplikasi yang ilegal di Kota Bengawan.

Dia menjelaskan yang dimaksud angkutan orang berbasis aplikasi ilegal adalah layanan taksi online yang memanfaatkan mobil pelat hitam.

“Saya merunut ke belakang, yang disepakati dalam rapat, kami akan menemui Wali Kota Solo pada 23 Oktober dan demo besar-besaran pada 30 Oktober mendatang. Itu kesepakatan bersama yang kami tulis,” kata Pramono saat diwawancarai di Sekretariat Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Solo, Jumat (20/10/2017).

Pramono menjelaskan tujuan Bantai Soloraya akan menemui Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, yaitu untuk menyampaikan dukungan dan saran kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo terkait penanganan operasional taksi online ilegal.

“Keputusan rapat kami kemarin jelas, pada 23 Oktober akan diadakan audiensi dan 30 Oktober akan dilaksanakan demo. Salah satu tuntutan kami masih seperti pada Mei lalu, bahwa kami meminta kuota 0% untuk taksi pelat hitam,” jelas Pramono yang merupakan pengemudi taksi Kosti Solo.

Dia menyebut kebutuhan layanan taksi di Solo kini sudah cukup dengan adanya layanan taksi pelat kuning. “Kira-kira yang bakal mengikuti demo, antara lain 25 pengayuh becak, 200 tukang ojek pangkalan, 200 pengemudi angkuta, dan 500 lebih pengemudi taksi lokal,” jelas Pramono.

Pramono menyampaikan pengemudi taksi lokal, pengemudi angkuta, tukang ojek pangkalan, dan pengayuh becak akan mengikuti demo dengan berkumpul terlebih dahulu di depan Stadion Manahan. Setelah berkumpul, mereka kemudian bersama-sama menuju ke depan Balai Kota Solo untuk melakukan orasi.

Dia menyebut, saat dilaksanakan demo, para pengemudi taksi lokal, pengemudi angkuta, tukang ojek pangkalan, dan pengayuh becak tidak akan memberikan layanan kepada masyarakat. Pengemudi taksi lokal, pengemudi angkuta, tukang ojek pangkalan, dan pengayuh becak yang tidak mau ikut demo diminta off memberikan pelayanan.

Perwakilan Asosiasi Becak Solo, Dalmuji, 60, mengusulkan agar pemerintah tidak memberikan izin bagi pengemudi taksi online pelat hitam dan ojek online beroperasi di Solo. Dia mengklaim, keberadaan layanan angkutan online ilegal tersebut mengambil pangsa penumpang para pengayuh becak. Dalmuji

Perwakilan asosiasi Angkuta Solo, Triyono, mengatakan pengemudi angkuta di Solo menolak keras keberadaan transportasi ilegal. Keberadaan mereka, menurut dia, membunuh kehidupan usaha transportasi legal.

“Katanya melarang operasional ojek online. Kenyataannya di lapangan pengemudi ojek online sekarang terua menjamur. Sama aja bohong. Harus ada bukti ketegasan dari pemerintah. Akan semakin meraja lela mereka jika dibiarkan,” kata Triyono keras sambil memukul meja di Sekretariat Organda Solo.

Saat dimintai tanggapan, Kabid Angkutan Dishub Solo, Taufiq Muhammad, meminta pengemudi taksi lokal, pengemudi angkuta, tukang ojek pangkalan, dan pengayuh becak di Solo tidak menghentikan pelayanan kepada masyarakat saat dilaksanakan demo pada 30 Oktober. Menurut dia, penyampaian aspirasi bisa dilakukan tanpa harus menghentikan pelayanan.

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…