Warga menyaksikan Sungai Bengawan Solo dari Jembatan Mojo, Semanggi, Pasar Kliwon, Minggu (19/6/2016), (istimewa/Nur Atmaja/SoloposFM) Warga menyaksikan Sungai Bengawan Solo dari Jembatan Mojo, Semanggi, Pasar Kliwon, Minggu (19/6/2016), (istimewa/Nur Atmaja/SoloposFM)
Kamis, 19 Oktober 2017 22:35 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

Jembatan Mojo Ditutup, Jarak Mojolaban-Pasar Kliwon Solo Tambah Jauh 10 Km

Masyarakat dari Mojolaban, Sukoharjo, harus menempuh jarak lebih jauh 10 km untuk menuju Pasar Kliwon, Solo.

Solopos.com, SUKOHARJO — Warga Mojolaban, Sukoharjo, meminta solusi terkait penutupan jalur Sukoharjo-Solo menyusul proyek perbaikan Jembatan Mojo pada 24 Oktober-4 November.

Penutupan jembatan itu membuat mereka harus menempuh jarak lebih jauh dan waktu lebih lama untuk menuju wilayah Pasar Kliwon, Solo. Hal itu karena warga harus memutar lewat Palur, Mojolaban, atau Pranan, Polokarto.

Jembatan Mojo merupakan penghubung antara wilayah Sukoharjo dengan Kota Solo atau sebaliknya. Jembatan di Sungai Bengawan Solo itu menjadi akses utama warga Sukoharjo terutama wilayah Mojolaban saat bepergian menuju Kota Bengawan.

Apabila jembatan ditutup, warga harus memutar arah menuju Palur atau melewati Pranan, Polokarto via Jl. Ciu. Jarak tempuh diperkirakan bertambah lebih dari 10 kilometer. Otomatis waktu tempuh perjalanan bakal lebih lama dibanding melewati Jembatan Mojo.

“Misalnya, saat berobat ke RS Kustati, Pasar Kliwon, Solo, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Jika lewat Palur atau Pranan mungkin bisa 40 menit. Padahal kondisi darurat saat ada warga yang sakit,” kata seorang warga Desa Wirun, Mojolaban, Sugeng, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (19/10/2017).

Sugeng memprediksi bakal terjadi kemacetan lalu lintas di sejumlah lokasi di Mojolaban seperti Simpang Empat Tugu Jam Bekonang. Kendaraan bermotor bakal menumpuk di lokasi itu lantaran pengalihan arus lalu lintas.

Hal ini bakal berimbas pada membengkaknya biaya transportasi lantaran harus memutar belasan kilometer. “Saya selalu mengantar anak ke sekolah di Pasar Kliwon, Solo setiap pagi hari. Harus ada solusi alternatif dari instansi terkait agar jarak tempuh perjalanan tak terlalu bertambah banyak,” ujar dia.

Hal senada diungkapkan warga Desa Dukuh, Mojolaban, Iswani. Dia tak mempermasalahkan penutupan sementara Jembatan Mojo selama 10 hari selama proyek perbaikan jembatan. Namun, instansi terkait harus mencari solusi agar pengguna jalan tak harus memutar arah terlalu jauh.

“Mungkin jembatan tetap bisa dilewati pengguna jalan namun hanya satu jalur. Pengguna jalan dari Solo maupun Sukoharjo bisa melewati jembatan secara bergantian,” tutur dia.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Sukoharjo, AKP Finan Sukma Radipta dan Kapolsek Mojolaban, AKP Priyono, mewakili Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi, mengatakan telah menerima surat tembusan ihwal rencana pengerjaan proyek perbaikan Jembatan Mojo dari Pemkot Solo. Pola manajemen rekayasa lalu lintas bakal dilakukan untuk mengurai kemacetan selama jembatan ditutup sementara.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…