Payung Teduh (foto: mousaik.com) Payung Teduh (foto: mousaik.com)
Kamis, 19 Oktober 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan seberapa populer sebuah karya musik band, solo vocal, dan lain-lain. Setelah Surat Cinta untuk Starla dari Virgeon dan Dia dari Andji menjadi tren di media sosial kemudian disusul Armada dengan Asal Kau Bahagia dan kini Payung Teduh dengan Akad yang jadi berita di banyak media.

Akad dirilis pada Juni 2017. Awalnya lagu ini dikritik oleh fans Payung Teduh karena dianggap menghilangkan identitas band ini. Lagu ini akhirnya mendapat respons yang sangat baik. Akad adalah jagoan keempat dalam konteks albumnya.

Hingga Jumat, 6 oktober 2017, klip video lagu ini sudah ditonton lebih dari 24,5 juta viewer Youtube. Kepopuleran Akad bukan hanya berkah bagi pelantun lagu aslinya tetapi juga berdampak pada permasalahan-permasalah yang timbul setelah itu. Setelah dikritik fans kemudian muncul masalah tentang perizinan penggunaan foto seorang ibu bernama Kaori Okado yang diceritakan meninggal dalam klip video.

Setelah itu muncul masalah pelanggaran hak cipta atas lagu ini. Pelanggaran hak cipta sekarang dianggap sebagai tindakan kriminal. Penekanan yang paling sering adalah tentang masalah plagiarisme atau penduplikasian.

Plagiarisme merupakan salah satu pelanggaran berat dalam dunia kekaryaan. Seorang doktor pun akan dicopot gelarnya dan diberhentikan dari profesinya ketika ketahuan melakukan plagiarisme. Apakah regulasi ihwal pelanggaran hak cipta ini bisa diterapkan pada industri musik dan apa sanksi yang akan diberikan?

Dunia musik adalah dunia yang sedikit membatasi kreativitas pelakunya. Dunia musik populer Indonesia seolah-olah memaksa para pelakunya untuk membuat musik yang laku dijual dan harus membuang idealisme mereka dalam bermusik.

Sedikit mengingat kasus masa lalu ketika D’masiv kali pertama dikenal di dunia industri musik dengan single mereka Cinta Ini Membunuhku. Kala itu band ini mendapat banyak cibiran karena dianggap menjiplak salah satu lagu milik My Chemical Romance.

Selanjutnya adalah: Risiko demikian akan selalu ada di dunia musik pop…

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…