Mbah Sri yang bernama lengkap Sri Mulyani, 75, warga Ponorogo hidup sebatang kara di rumah sempit, Selasa (17/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Mbah Sri yang bernama lengkap Sri Mulyani, 75, warga Ponorogo hidup sebatang kara di rumah sempit, Selasa (17/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Selasa, 17 Oktober 2017 15:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

VIRAL MEDSOS
Fakta Mbah Sri Ponorogo yang Hidup di Rumah Kecil dengan Akses Gang Sempit

Kisah tragis, begini kisah hidup wanita lansia Mbah Sri Ponorogo yang hidup miskin di tengah Kota Reog.

Solopos.com, PONOROGO — Kisah tentang kehidupan dan rumah Mbah Sri Ponorogo viral di media sosial beberapa hari terakhir. Wanita lanjut usia bernama lengkap Sri Mulyani itu ternyata hidup sendirian di rumah tidak layak huni sejak 35 tahun lalu.

Selama itu pula, Sri menggantungkan hidup dari tetangganya. Kondisi hidup Sri dan rumahnya di kawasan Jl. Argopuro Kelurahan Bangunsari, Ponorogo, yang terisolasi dengan akses jalan berupa gang sempit dengan lebar sekitar 30 cm menjadi perbincangan warganet serta diberitakan di media.

Saat ditemui Madiunpos.com di rumahnya, Selasa (17/10/2017) pagi, Mbah Sri Ponorogo tampak diam di ruangan kecil yang hanya ada dipan tempat tidur. Sri membawa gelas berisi blewah yang telah dihaluskan.

Wanita berusia 75 tahun itu hanya diam dan menghadap ke bawah karena pendengaran dan penglihatannya tidak berfungsi dengan baik. (baca: Mbah Sri Ponorogo Tinggal Sendirian di Rumah Terjepit Gang Sempit)

Ketua RT 001/RW 004, Kelurahan Bangunsari, Kecamatan Ponorogo, Heru Setiantoro, mengatakan Sri tidak mau dipindah dari rumahnya tersebut. Menurut dia, Sri hanya ingin selama hidup hingga meninggal dunia di rumah warisan orang tuanya itu.

Heru menceritakan sebenarnya kondisi tersebut sudah dialami Sri sejak berpuluh tahun lalu. Dahulu, kata dia, Mbah Sri Ponorogo tinggal bersama kedua orang tua serta tiga saudaranya. Kemudian kedua orang tua dan dua orang saudara Mbah Sri meninggal dunia. Sri hanya memiliki seorang saudara yang keberadaannya kini tidak diketahui.

Bekerja Serabutan

Saat kedua orang tua Mbah Sri masih hidup, kata dia, rumah yang mereka huni berukuran sekitar 8 meter X 10 meter. Kemudian karena kebutuhan hidup rumah tersebut dijual hingga tersisa rumah berukuran 2 meter X 4 meter yang saat ini ditinggali Sri. “Sebenarnya rumah yang ditinggali itu rumah dapur,” ujar dia.

Heru menuturkan penglihatan Sri sudah terganggu sejak lahir. Saat ini, kondisi penglihatan Mbah Sri Ponorogo semakin parah dan tidak berfungsi. (baca juga: Rumah Mbah Sri Ponorogo yang Terjepit Gang Sempit Diperbaiki)

Mbah Sri Ponorogo juga tidak pernah menikah sehingga selama ini hanya hidup sendirian. Sebelum kondisi fisiknya sakit-sakitan, Sri sempat bekerja serabutan sebagai pencuci baju dan petawat anak. “Setelah kondisi badannya tidak sehat, Sri berhenti bekerja dan hidup di rumah terus,” kata Heru.

Sejak tidak bekerja itu, beber Heru Setiantoro, kebutuhan hidup Sri ditanggung oleh warga setempat. Kebutuhan konsumsi wanita lansia itu seluruhnya menjadi tanggung jawab tetangga.

Mengenai akses gang sempit dengan lebar 30 cm, kata Heru, sebenarnya ada akses jalan utama untuk menuju rumah Sri. Jalan tersebut lebarnya sekitar setengah meter dan dibangun khusus untuk akses Sri saat hendak keluar dari rumah.

Namun, saat Sri sakit-sakitan dan tidak pernah keluar rumah, jalan tersebut pun dimanfaatkan untuk menyimpan barang. “Kalau dulu pas Sri masih sehat dan bisa jalan, jalan itu dibuka. Tetapi setelah Sri hanya diam di rumah dan kebutuhannya juga telah dipenuhi, jalan tersebut pun digunakan untuk menumpuk barang,” jelas dia.

Saat ini jalan tersebut mulai dikembalikan lagi fungsinya dengan persetujuan dari pemilik lahan. Nantinya warga yang hendak berkunjung bisa melalui jalan tersebut.

Sementara Sri Mulyani mengaku saat ini dalam kondisi sehat, meski pendengaran dan penglihatannya bermasalah. Dia mengaku tidak mau dipindah dari rumahnya. “Mboten purun pindah,” ujar Mbah Sri Ponorogo.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…